Minggu, 02 Juli 2023

LANJUTAN BAHASAN

LANJUTAN BAHASAN

coba style :

Be Realistics to Realize the Real  
Bersikap realistis untuk merealisasi yang real 
NDAGELE SAKMADYO WAE
jalani drama kehidupan ini sewajarnya saja  
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan.

Well, mungkin inilah saatnya bagi kami untuk berbagi bukan lagi sebagai "persona" sebagaimana figur yang seharusnya diperankan (sebagai seorang manusia yang lahir dan hadir di dunia ini dengan segala atribut eksistensial yang ada) namun sebagai sesama zenka "seeker" yang terbang menjelajahi cakrawala pengetahuan keabadian dalam kehidupan ini dengan dua sayap paradoks keterbukaan dan keterjagaan atas dualisme kenyataan menjaga keberimbangan, menjalani keswadikaan dan menggapai kebijaksanaan sebagaimana harusnya ….Sayang sekali walau mungkin cukup sarat akan wawasan pengetahuan namun sangat minim dalam penempuhan sehingga tiada layak dalam tataran penembusan yang seharusnya bisa dicapai. Ini tidak hanya membuat kami risih namun juga riskan. Apalagi bahasan spiritulitas ini tentuna akan menyerempet (melanggar ?) masalah yang bukan hanya sangat krusial namun juga sangat sensitive bukan hanya bagi para Neyya Buddhist namun juga umat agama lain termasuk (terutama?) saudara muslim kami. Disamping kami harus menjaga logika, bahasa dan etika dalam penyampaiannya tampak sangat perlu moderasi keterbukaan pengertian untuk tidak salah faham akan orientasi niatan kami dan juga sikap kritis keterjagaan penalaran anda semua jika memang ada kesalahan pandangan yang kami ajukan. Ini hanyalah kontribusi pandangan untuk memperluas pandangan kita dengan tanpa maksud sama sekali untuk meng-konversi diri sendiri ataupun orang lainnya ke suatu ajaran tertentu namun sekedar masukan wawasan untuk kembali mentriangulasikan paradigma cara pandang kita bukan hanya dalam kehidupan duniawi ini dengan segala problematika figure eksistensial kita yang multi peran namun juga demi keberlanjutan kita mensiagakan diri dengan segala keberdayaan yang diperlukan untuk menghadapi segala dilematika kemungkinan yang ada (bahkan jika itupun ternyata berbeda sama sekali dengan yang telah kita yakini dan persiapkan selama ini). Pada intinya nanti walau dalam leveling pemilahan memang perlu adanya kebaikan untuk melayakkan taraqqi yang lebih baik namun dalam labeling tidak ada yang perlu merasa direndahkan/ ditinggikan karena memang demikianlah desain keberadaan kasunyatan ini memang harusnya/nyatanya tergelar. Segalanya terlingkup sebagai aneka dvaita pelangi kenyataan dari cahaya advaita mentari kebenaran dalam living kosmos kesemestaan homeostatis tunggal yang sama … amala, avimala (prajna paramita hrdaya sutra). 

Sadhguru Yasudev Quotes : 
Whatever you have – your skills, your love, your joy, your ingenuity, your ability to do things – please show it now. Do not try to save it for another lifetime.
Apa pun yang Anda miliki - keterampilan Anda, cinta Anda, kegembiraan Anda, kecerdikan Anda, kemampuan Anda untuk melakukan sesuatu - tolong tunjukkan sekarang. Jangan mencoba menyimpannya untuk kehidupan mendatang.
OKAY ...
Okey, Sadhguru Yasudev, tak akan kami simpan juga untuk diri kami sendiri wawasan kosmik Parama Dhamma dalam Mandala Advaita ini dengan Formula Swadika bagi keberlanjutan kehidupan saat ini dan juga bagi kesiagaan nanti … apapun yang terjadi terjadilah. Lagipula walau agak controversial bahkan mungkin akan jadi sensitive nantinya… toh niatan kami sesungguhnya hanyalah mengajukan kemungkinan saja tanpa memaksakan ini sebagai kepercayaan yang harus diterima sebagai keyakinan dogmatis / fanatic yang membuta. Ini hanyalah thesis pada antithesis pandangan anda semula untuk mengembangkan synthesis kebijaksanaan baru kita berikutnya. Sungguh tidak ada yang harus dilekati (bahkan jikapun pandangan ini ternyata tidak hanya sesuai dengan asumsi anda bahkan memang demikian realitas kebenarannya pada segala fenomena keberadaan)  dan juga tidak ada yang perlu dibenci atau ditolak (bahkan termasuk pandangan lain yang mungkin tidak hanya Dhammadipatheyya namun juga sekedar lokadipatheyya ataupun bahkan hanyalah attadipatheyya … karena setiap paradigma memiliki kebenaran dan juga “pembenaran”nya masing-masing walau tidak harus diterima dengan persetujuan namun tetap harus juga dihargai keberadaannya). Dalam mandala ini hikmah kebenaran yang sesungguhnya tinggi  bisa saja lahir dari limbah kenyataan yang semula dipandang rendah. Respek yang setara (walau  mungkin tidak harus sama) diberikan tidak hanya bagi  pandangan Buddha Dhamma, Mistik Esoteris atau tradisi Religi bahkan addhamma sekalipun namun segalanya termasuk juga atas segala zenka keberadaan yang ada (Lokuttara Dhamma, Tao, Tuhan, Brahma /termasuk level sankhara vipassana, vedana suddhavasa, sanna anenja & Rupa Brahma Jhana 4 hingga 2 Abhasara yang tidak lagi nama sukha namun sudah rupa piti ?/ ; Wilayah kamavacara:  Mara, Yama, Dewa, yakkha, Asura /iblis?, Petta/ demit?, dunia manussa, tirachana hingga niraya lokantarika dsb) karena walau mungkin dipersepsikan dalam level/label berbeda namun secara universal segalanya berada dan melengkapi posisi  keseluruhan desain ini dengan indahnya sesuai porsi perannya maing-masing …. Sigma Kuanta cahaya dari Sentra yang sama. Yang secara bijak tak perlu dibela/dipuja? walau dipandang mulia apalagi secara fasik harus dicela/dihina? karena dianggap nista. So, mantapkan kebenaran tempuhlah kebijakan dan jalanilah kebajikan namun dengan tanpa melekatinya … ini mungkin makna tersirat nasehat Dhamma Desana Bhante Pannavaro untuk diperhatikan dalam penempuhan/penembusan spiritualitas yang berimbang bukan hanya holistic pada keseluruhan namun juga harmonis untuk keswadikaan diri.

LANGSUNG SAJA, YA ......

Sadhguru Yasudev Quotes : 
Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.
Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menempuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka
SUCHNESS PHILOSOPHY = PARAMA DHARMA , MANDALA ADVAITA & FORMULA SWADIKA ?
singkatnya begini ... Adalah Sentra Dhyana bak Wujud mentari keber-Ada-an yang memunculkan Parama Dharma azali corona energi (jadi inget term pandemi kemarin, ya ? ) maka tergelarlah dalam keniscayaan ketiadaan murni azali menjadi samudera sigma kuanta materi cahaya dalam segala layer dimensi wilayah mandala advaita demikianlah kesedemikianan itu tergelar sebagai desain sistem yang homeostatis interconnected equilibirium bagi setiap diri cahaya tersebut untuk beraktualisasi sesuai di dalamnya atau untuk pulang kembali dalam kemurnian azalinya dalam formula swadika yang tepat. 
KOK RIBET BEGINI GAMBARANNYA 


DESAIN FORMAT 
PRAKATA
PROLOG 
MONOLOG 
EPILOG 
PENUTUP

FORMAT 
PRAKATA
DIBLOK LANJUT 

Aneka Kutipan penting & Istilah Akhir 
Tiada maksud njarak atau tranyakan jika kami agak mempertanyakan mengapa posting Rekap Idea pada blog ini tidak diblokir komunitas blogger sebagaimana file sejenis lainnya ( main idea, rest idea, quo vadis ?) https://just2share4seekersall.blogspot.com/2022/12/rekap-idea-sd-11122022.html

Well ... tampaknya kami harus peka & tanggap , nih ... Terima kasih, mungkin memang posting tersebut memang tidak tepat untuk audiens, waktu & tempatnya. Namun setidaknya kami sudah menuntaskan janji kami sejak awal pandemi lalu (Sebagaimana kami tidak mengharapkan piutang kosmik semoga saja juga tiada hutang karmik .... walau pastinya akan terniscayakan juga ?) . Well, mohon maaf atas kesalahan tsb & terima kasih atas perhatiannya.  Saatnya rehat, rekap & relax.  Begitu banyak yang masih harus diselesaikan ... semoga tetap bisa bertahan dan berjalan hingga akhir bukan hanya melaluinya namun juga melampauinya

Tiada maksud njarak atau tranyakan jika kami agak mempertanyakan mengapa posting Rekap Idea pada blog ini tidak diblokir komunitas blogger sebagaimana file sejenis lainnya ( main idea, rest idea, quo vadis ?)
ARSIP KE 333 
REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE by BLOG
Uploaded byteguh.qion May 6, 2023
listing of REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE.zip

file

size

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/GALAU CORONA/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/GALAU CORONA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 GALAU CORONA (tidak finale).docx

650873

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/GALAU CORONA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 GALAU CORONA (tidak finale).pdf

668759

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/KONSIDERAN/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/KONSIDERAN/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 KONSIDERAN PANDANGAN (cukup finale).docx

412540

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/ANEKA IDEA/YES IDEAS/KONSIDERAN/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 KONSIDERAN PANDANGAN (cukup finale).pdf

797693

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/MAIN IDEA/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/MAIN IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 MAIN IDEA = JUST FOR SEEKERS (belum finale !).docx

5080358

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/MAIN IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 MAIN IDEA = JUST FOR SEEKERS (belum finale !).pdf

3919704

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/MAIN IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 MAIN IDEA = JUST FOR SEEKERS (belum finale !) REV.docx

5014548

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/MAIN IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 MAIN IDEA = JUST FOR SEEKERS (belum finale !) REV.pdf

3595961

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/NEXT IDEA/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/NEXT IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 NEXT IDEA = QUO VADIS (perlu finale).docx

4849817

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/NEXT IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 NEXT IDEA = QUO VADIS (perlu finale).pdf

4183577

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/NEXT IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 NEXT IDEA = QUO VADIS (perlu finale) REV.docx

4774995

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/NEXT IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 NEXT IDEA = QUO VADIS (perlu finale) REV.pdf

3562725

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 27122022 QUO VADIS, ALL.docx

8329761

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 27122022 QUO VADIS, ALL.pdf

7992615

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 27122022 QUO VADIS, ALL REV.docx

8171386

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 27122022 QUO VADIS, ALL REV.pdf

6898957

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/02 JUST2SHARE4SEEKERS TS 23122022 QUO VADIS, SBNR REV.docx

1851550

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/02 JUST2SHARE4SEEKERS TS 23122022 QUO VADIS, SBNR REV.pdf

1388854

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/05 JUST2SHARE4SEEKERS SA 23122022 QUO VADIS, SBAR REV.docx

8296052

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/QUO VADIS/05 JUST2SHARE4SEEKERS SA 23122022 QUO VADIS, SBAR REV.pdf

7839686

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/REST IDEA/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/REST IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 REST IDEA (belum finale ).docx

2732090

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/REST IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 REST IDEA (belum finale ).pdf

2519668

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/REST IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 REST IDEA (belum finale ) REV.docx

2722165

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/REST IDEA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 REST IDEA (belum finale ) REV.pdf

2304895

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/VIA SBNR SBAR/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/VIA SBNR SBAR/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 24012023 VIA REFERENSI SBAR FOR REALISASI SBNR ORI.docx

1176001

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/VIA SBNR SBAR/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 24012023 VIA REFERENSI SBAR FOR REALISASI SBNR ORI.pdf

1218278

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/VIA SBNR SBAR/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 24012023 VIA REFERENSI SBAR FOR REALISASI SBNR REVISED.docx

1177466

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/POST/VIA SBNR SBAR/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 24012023 VIA REFERENSI SBAR FOR REALISASI SBNR REVISED.pdf

1405827

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/BLOG/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/BLOG/Kebijakan Konten Blogger OKE.docx

27538

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/BLOG/Kebijakan Konten Blogger OKE.pdf

43969

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/BLOG/Kebijakan Konten Blogger REV.docx

26924

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/BLOG/Kebijakan Konten Blogger REV.pdf

43558

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/IMG/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/IMG/2023-03-14_015911.jpg

165535

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/IMG/2023-03-14_021537.jpg

158252

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/NOT SEEKERS/WARN/IMG/2023-03-14_021735.jpg

170731

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/DHAMMA MANTRA/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/DHAMMA MANTRA/01 TQ DHARMA_SEKHA 17042022 REHAT _ RELAX _ RESET Dhamma Mantra.docx

605106

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/DHAMMA MANTRA/01 TQ DHARMA_SEKHA 17042022 REHAT _ RELAX _ RESET Dhamma Mantra.pdf

732634

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/DHAMMA MANTRA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 DHAMMA MANTRA (sudah finale).docx

641903

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/DHAMMA MANTRA/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 DHAMMA MANTRA (sudah finale).pdf

849036

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/HALAL BI HALAL/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/HALAL BI HALAL/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 HALAL BI HALAL 2022 (sudah finale).docx

1078952

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/HALAL BI HALAL/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 HALAL BI HALAL 2022 (sudah finale).pdf

1423104

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/HALAL BI HALAL/02 MS Sharing Seeker 15052022 COPAS HALAL BI HALAL 1443 H (2022) LENGKAP final.docx

1069096

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/HALAL BI HALAL/02 MS Sharing Seeker 15052022 COPAS HALAL BI HALAL 1443 H (2022) LENGKAP final.pdf

1357632

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/KOMENTAR VLOG/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/KOMENTAR VLOG/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 KOMENTAR VLOG SD 15052022 (sudah finale).docx

257651

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/KOMENTAR VLOG/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 KOMENTAR VLOG SD 15052022 (sudah finale).pdf

840863

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/KOMENTAR VLOG/02 TS MaxwellSeeker 15052022 KOMENTAR VLOG SD 11052022 (15052022).docx

135526

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/KOMENTAR VLOG/02 TS MaxwellSeeker 15052022 KOMENTAR VLOG SD 11052022 (15052022).pdf

669552

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/POSTING AWAL/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/POSTING AWAL/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 POSTING AWAL 2014 (sudah finale).docx

213297

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/POSTING AWAL/01 TQ JUST2SHARE4SEEKERS 28122022 POSTING AWAL 2014 (sudah finale).pdf

1296210

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/POSTING AWAL/02 TS JUST4SEEKERS 08042022 POSTING AWAL ... Nostalgia 2014, ah.docx

180360

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/SUDAH/OKE FINALE/POSTING AWAL/02 TS JUST4SEEKERS 08042022 POSTING AWAL ... Nostalgia 2014, ah.pdf

1170812

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/01 TQ Teguh.Qi - Sharing Forever 22042023 BYE BYE OKE.docx

1451996

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/01 TQ Teguh.Qi - Sharing Forever 22042023 BYE BYE OKE.pdf

3614667

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/07 MT JUST2SHARE4SEEKERS 11042023 REKAP SD 12042023.docx

51851

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/07 MT JUST2SHARE4SEEKERS 11042023 REKAP SD 12042023.pdf

204221

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/07 MT JUSTSHARING 16042023 PESKIL RAMADHAN 1444 H 2023.docx

602203

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/BLOG/07 MT JUSTSHARING 16042023 PESKIL RAMADHAN 1444 H 2023.pdf

520637

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/DINAS/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/DINAS/33 TOPIK Pelatihan Mandiri UPDATE 06052023.docx

5481898

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/DINAS/33 TOPIK Pelatihan Mandiri UPDATE 06052023.pdf

431686

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/ISLAMI/

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/ISLAMI/HADITS ARBAIN 40 42 SD 50.docx

110197

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/ISLAMI/HADITS ARBAIN 40 42 SD 50.pdf

1025557

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/ISLAMI/KATAMAN QURAN REVISEDKU.doc

25559552

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/IDEA/TERUS/ISLAMI/KATAMAN QURAN REVISEDKU.pdf

28661676

plus
Mungkinkah kami agak paranoid (su'u zhon = buruk sangka) atas kebijaksanaan tersebut seperti pada garapan PMM dulu. 
Kalau tidak diblokir ... berarti memang boleh diteruskan. Seeker SBNR (juga SBAR?) tampaknya nunggu sharing idea lanjutannya, sudah kami perkirakan sebelumnya ... Bisa jadi ini akan menjadi gelombang liar pengertian yang akan memporak-porandakan kemapanan lautan yang tenang ... hening dalam kesemuan, mapan dalam ketidak-mengertian bahkan kokoh dengan bangunan kepalsuannya.
Walau memang terlihat 'mbulet' untuk harus tahu diri,tahu malu dan tahu sila dalam semesta kebersamaan. Well, harusnya anda sudah dapat mensintesakan sendiri (melahirkan paradigma kebijaksanaan self gnosis wisdom exodus baru ) berdasarkan pancingan antitesa masukan kami atas thesis pandangan anda semula. 
So, sementara browsing blog/ vlog lainnnya dulu, ya
kami rekomendasikan vlog psikologi transpersonal ( YF La Kahija - Eling lan Awas )

atau vlog filsafat populer ( Fahrudin Faiz - MJS UIN) ... baru tahu vlog bagus ini dua minggu yang lalu (padahal sudah 10 tahun yang lalu eksis ... ke planet mana saja saya selama ini, hehehe ... padahal ini juga bisa untuk referensi dulu harusnya). Jangan paranoid curigaan, lho. Tiada maksud dakwah konversi dikarenakan kami Muslim. Vlog ini 'walau' memang islami namun moderat universal, bro. Masih terus download dan simak masukan, nih.     

RELAX 21052023/DATA/LINK NGAJI FILSAFAT 387 MJS 21042013 SD 30032023.pdf

600830

RELAX 21052023/DATA/LINK NGAJI FILSAFAT 387 MJS 21042013 SD 30032023.xlsx

121064

Well, ternyata banyak sekali intelektual spiritualis (Doktoral lagi) walau relatif  lebih muda dari kami namun lebih dewasa & tidak sekedar pemerhati namun juga penempuh di Indonesia saat ini. Untuk Buddhism ada juga Bhante Santacitto, Ashin Kheminda, dsb. 

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/DATA/EXTRA/SURF/VLOG FAVORITE/BUDDHA DHAMMA INDONESIA VLOG.docx

663927

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/DATA/EXTRA/SURF/VLOG FAVORITE/BUDDHA DHAMMA INDONESIA VLOG.pdf

1431230

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/DATA/EXTRA/SURF/VLOG FAVORITE/Dhammavihari Buddhist Studies DBS VLOG.docx

4572027

REKAP REHAT RELAX SD 06052023 OKE/DATA/EXTRA/SURF/VLOG FAVORITE/Dhammavihari Buddhist Studies DBS VLOG.pdf

4329176

itu dulu saja, ya  ?
Buat playlist, ah.. 
FILSAFAT FAHRUDIN FAIZ (MJS)
PSIKOLOGI HANS (ELA)
ASHIN KHEMINDA
BHANTE SANTACITTO


Selamat hari raya Trisuci Waisak 2567 BE/2023 M. Appamadena sampadetha
“Handadani bhikkhave amantayami: vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha’ti, ayam Tathagatassa pacchima vaca.” Yang artinya “Kini, para bhikkhu, Kusabdakan padamu: segala yang berbentuk akan lenyap kembali, berjuanglah dengan tekun (mencapai pembebasan), inilah sabda Sang Tathagata yang terakhir” (Digha Nikaya, 16), demikian yang dinyatakan guru agung Buddha menjelang beliau Parinibbana
Well ... akhirnya selesai juga download all files Vlog MJS (Ngaji Filsafat - Bapak Fahrudin Faiz). Hampir satu bulan penuh (File rar (audio, file ) & video ) 389 sejak 10 tahun lalu besar juga (82 GB ?). Namun demikian terima kasih atas input masukan yang di-share-kan. 
Sudah tiga minggu ( hampir satu bulan) posting Rekap Idea tidak diblokir (Nekat juga, hehehe).  Padahal Rekap Idea sejenis diblok semua (termasuk pada blog) ini .
Notifikasi (1)
Postingan ini tidak dipublikasikan karena melanggar Pedoman Komunitas Blogger. Untuk memublikasikan ulang, perbarui konten agar mematuhi pedoman.
Sesungguhnya kami berharap orang lain yang mengajukan Filsafat Kesedemikianan ini. Dilemma juga ... Sebetulnya tetap bungkam tidak bicara memang cara aman dan nyaman tanpa harus salah (dipermasalahkan?) walau seakan membiarkan terhalangnya pemahaman kemungkinan yang perlu (?) dimengerti demi terjaganya keberadaban transendensi spiritualitas (as viator mundi) plus bagi peradaban universalisai eksistensialitas (as faber mundi).

Sadhguru Yasudev Quotes : 
Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.
Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menempuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka
Baiklah digenapi satu bulan sekalian saja (mungkin kelupaan belum diblok ?) ... tuntaskan tugas dulu, sambil simak tayangan vlog & blog lainnya.
RELAX , REKAP & REHAT DULU

MASIH ADA ? ( sudah genap satu bulan tidak diblok ... Nekat juga ... baiklah lanjutkan )
Sudah melewati sebulan (bahkan hampir satu minggu lebihnya, bro).  Well, tanpa niatan mengkhianati amanah atas komitmen janji semula namun sungguh masih repot / ribet nih ... masih tuntaskan tugas eksternal plus tunggu tayangan video pak Hans ELA + pak Faiz MJS akhir minggu ini (untuk slides) & file Pure Dhamma terkini lagi. Liburan minggu depan semoga bisa, nggih ? Sementara ini dulu via Google Drive ... kalau sudah lengkap nanti via Archive.Org seperti biasanya ... plus posting. Capek & mbulet gaya induktif  bidan socrates ... so, nanti kita coba deduktif langsungan saja walau riskan juga namun untuk mempermudah dioperasi caesar saja bayi pandangan tersebut (susah harus mengingat/ mencari pijakan referensi autentik akuratnya, sih ...). Namun tampaknya banyak tayangan yang arahnya ke sana juga ... jadi nggak ewuh lagi sekarang. Well, walau mungkin bungkam memang aman & nyaman tidak perlu menyusahkan diri sendiri saat ini namun bisa jadi justru akan membiarkan rusak kecenderungan keseluruhannya termasuk bagi kelanjutan diri dan lainnya nanti (bukan hanya paska pralaya kematian individual namun bisa jadi yang lebih besar dari itu semua ... jika inferensi pandangan ini benar. Walau mungkin tidak mudah difahami dan susah dijalani toh kita nantinya harus arif menerima jika itu terjadi .... jadi, ya ... Amor Dei, Amor Fati ..... Que sera sera - Pantha Rei ). Kok jadi lebai serius amat sih ... segalanya memang harus tetap mengalir begini dalam peniscayaan kesedemikianannya (baik terungkap maupun tidak .... tanpa peduli diterima atau ditolak ... tanpa masalah dijalankan atau diabaikan).  
Well, Semoga nantinya saya bisa tidak asal ngomong namun bisa ngemong tanpa harus mencela ide / ego lainnya untuk dianggap/menganggap mulia .... tanpa berlagak seakan berlabel demikian yang justru akan menjadikan diri terniscayakan nista adanya dalam hakekat di saat ini dan dampak lanjutnya nanti . Bukan dalam busa ego seakan uebermensch , rausyan fikr, atau aneka label megah lainnya ... namun hanya sebagai sesama air belaka di semesta materi keberadaan, dalam samudera energi keilahian dan bahkan esensi kesunyataan yang sama ... (tetap berusaha) tanpa buih untuk sekedar berbagi.... tanpa niatan menjaring hati, membentuk opini dan mencari legitimasi untuk menghibur diri, mencari kuasa dan saling menyesatkan (seakan mencerahkan?) diri dan lainnya. Meminjam terma tokoh agama Abrahamik tanpa merasa semulia Musa yang walau tetap harus dalam kelembutan menghadapi Firaun (QS 20 : 44 = khotib ulama vs Al Makmun , Cak Nun vs Jokowi ?, etc)  karena ini lebih seperti Yunus yang merasa tidak pantas (karena level diri atau zhon lainnya ?) namun tetap merasa perlu bicara sekedar menuntaskan amanah dan menghindarkan diri dan lainnya dari bencana yang mungkin akan namun tidak perlu terjadi dan untuk kebaikan yang mungkin perlu dijalani dan mampu dicapai. Ah ... kok jadi ikutan berlagak sebagai/ seperti lainnya ... Just Be yourself (Cukup jadi dirimu sendiri saja ... seburuk / serendah apapun itu karena memang hanya itu saja yang nyata autentik untuk diarahkan peniscayaan kelayakan nantinya). Dan ini bukan manuver politik lho (pemilu 2024 ? ... apa perlu golput lagi agar tiada yang berghibah & memfitnah lagi (inget dampak lanjut, bro ... vires (pandemi) atau cures (musnah)  mauNya ... agar bisa ndemit bersama di alam barzah hingga qiyamah?  tidak masalah .. bahkan maaf, kalaupun kami memang ternyata mampu berbelok diitikungan, Ashin ... itu tidak akan kami lakukan karena kami merasa perlu bahkan patut untuk singgah ke sana juga bahkan hingga apaya lokantarika bersama para badut kosmik lainnya paska mahapralaya wilayah pecandu sensasi kebahagiaan eksternal kamavacara tanpa balance keberdayaan internal brahmanda apalagi tiada keterjagaan azaliah esensial lokuttara hingga bentukan mandala semesta baru untuk romantika pagelaran kisah kasih nama rupa baru di sini atau di lokadhatu lainnya ? )
keceplosan lagi ?  ah .... biar saja. Kalau diblok lagi kan ada alasan untuk kembali bungkam ?
playlist  LINK CAESAR 
PLUS CAESAR 
plus antitesisnya juga, ya (sebagai penyeimbang, pengujian dan pengutuhannya)
Agung Webe sepertinya adalah rekan seeker kami puluhan tahun yang lalu (paska reformasi pra menikah) yang sehari bersama ke Anand Ashram dan bersama adik pernah bermalam di rumahnya /pramugara MNA dari Bekasi? ..... Atau mungkin ini orang yang beda. / ....  Well, By the way ... kami cukup tanggap akan ketulusan niatan baik dibalik rhetorika provokatif dalam memerankan dirinya sebagai gadfly ala Socrates atau Osho saat ini karena memang susah membangunkan kita yang masih tertidur dan lelap bermimpi ? /jadi inget istri yang terpaksa harus keras 'bernyanyi' bangunkan suami & putera-puterinya yang semuanya hobi suka begadang dan baru ambruk tertidur larut malam /menjelang pagi hingga selalu bangun kesiangan./  hehehe... nggak semuanya lelap tertidur, bro ... bahkan ada yang sudah terjaga untuk kemudian juga menumbuh-kembangkan kefahaman/ kesadaran / kelayakan dirinya walau memang kebanyakan masih seperti kami ... masih kacau kewalahan, galau kelayapan dan sakau bermalasan ditengah kerepotan eksternal/ keribetan internal dari episode keabadian yang bernama kehidupan hingga kematian nanti (?). .... Hanya berlibur, terhibur dan dikubur sebagai manusia saja ? Harusnya tidak. 
Link Data Google Drive  
REKAP SD 22062023
Wah ... macet (offline ?) ... kelamaan, nih ... apa di Archive sekalian saja, ya ?
REKAP SD 22062023 by BLOG Uploaded byteguh.qion June 21, 2023
wah ... kok katut terbawa file titip pribadi .... belum dicheck, sih. Ganti ini saja.
REKAP SD 21062023 by BLOG Uploaded byMASTER562on June 21, 2023
Well... walau agak terlambat .... minimal janji walau memang belum tuntas memadai namun sudah mulai tergenapi... sementara ini dulu, ya ?

Apa yang harus/ perlu (boleh?) diungkapkan, cara (framework paradigma, style format, etc), sasaran audience (hanya SBNR atau juga SBAR?) ... Corat coret dulu saja sambil rekap data idea yang sudah ada (Google Drive dulu baru Archive .Org jika sudah pasti, lengkap dan memadai ?) Update periodik / check & recheck/
REKAP SD 24062023
SUCHNESS PHILOSOPHY = PARAMA DHARMA , MANDALA ADVAITA & FORMULA SWADIKA ?
singkatnya begini ... Adalah Sentra Dhyana bak Wujud mentari keber-Ada-an yang memunculkan Parama Dharma azali corona energi (jadi inget term pandemi kemarin, ya ? ) maka tergelarlah dalam keniscayaan ketiadaan murni azali menjadi samudera sigma kuanta materi cahaya dalam segala layer dimensi wilayah mandala advaita demikianlah kesedemikianan itu tergelar sebagai desain sistem yang homeostatis interconnected equilibirium bagi setiap diri cahaya tersebut untuk beraktualisasi sesuai di dalamnya atau untuk pulang kembali dalam kemurnian azalinya dalam formula swadika yang tepat. 
KOK RIBET BEGINI GAMBARANNYA 

CAPEK BERALIH ANTAR AKUN ..... KE AKUN INDUK SAJA (REKAP & POSTING)
REKAP SD 28062023 by BLOG Uploaded byteguh.qion June 27, 2023

ETC

ETC

KUTIPAN : https://share4seekers.blogspot.com/2023/06/coba-sketsa-mozaik-lagi.html

MASIH NEKAT ... (dasar mental petaruh ... sudah tahu pasti dikalahkan & disalahkan tetap maju terus, hehehe) . Di akun induk saja, capek & ribet bolak balik alih 7 akun. Berbagi (sebagai media kosmik) walau tanpa niatan menguntungkan  sama sekali bahkan sesungguhnya malah menyusahkan diri pribadi saja sebenarnya tidak akan rugi demi peniscayaan inner growth di dalam walau mungkin tidak dipuji (aleman/ anggepan amat, bro) bahkan bisa saja malah dimaki lainnya (semoga tidak terlalu tranyakan kulak perkoro) , hehehe.

https://just2share4seeker.blogspot.com/2023/06/mozaik-sketsa.html

Apa yang harus / perlu (boleh?) diungkapkan, cara (framework paradigma, style format, etc), sasaran audience (hanya SBNR atau juga SBAR?) ... Corat coret dulu saja sambil rekap data idea yang sudah ada (Google Drive dulu baru Archive .Org jika sudah pasti, lengkap dan memadai ?) Update periodik / check & recheck/

GANTI = REKAP  SD 28062023 
REKAP SD 28062023 by BLOG Uploaded byteguh.qion June 27, 2023

kutipan lainnya :

TANAZUL TARAQQI
Plus: hipotesa teoritis  3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara). .... mungkin tepatnya state keberadaan. (apalagi tidak hanya laten deitas personal samsarik) . 
Dari secret data lama kami (maaf ... dulu memang lebai masih naif & liar .... sekarang ? makin parah & payah, hehehe ) Gnosis Publik  p.7

Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )
Well, ini hipotesa teoritis dari 3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara).  
1.Mandala Tiada Samsara, ( Fase hanya Dhyana > Dhamma ) 
Transenden = Transendental - Universal  - Eksistensial  (Esa - yang ada hanya Dia Sentra Yang Esa ) 
2. Mandala Dengan Samsara, (Fase  dalam Dhamma < Dhyana )
Transenden = Transendental , Universal  , Eksistensial  (Segalanya ada  karena Dia  Sentra Yang Esa) 
Tanazul Genesis = emanasi , kreasi , ekspansi ? 
2.1. Awal : Mandala Pra Samsara  
Transendental : keterjagaan esensi / zen ? Nibbana 
Universal  : keterlelapan energi / nama  Brahma : arupa & rupa , 
Eksistensial  : kebermimpian etheric / rupa Kamavacara : dunia - surga & apaya  
2.2.. Kini : Samsara Pra Pralaya  
Dunia :  sd pralaya  Svarga : sd pralaya (paska dunia ) - Apaya :  sd pralaya ( lokantarika ?) -  Brahma : sd pralaya ( abhasara etc  Nibbana : sd advaita ? 
2.3. Nanti : Samsara Paska Pralaya (versi Buddhism ? ) 
Lokantarika : residu rupa paska terkena pralaya : dunia - apaya - svarga - hingga rupa brahma Jhana 1 sd 3 (mengapa ?)
Brahmanda : restan nama tidak terkena pralaya : Sudhavasa + Anenja /& Rupa Brahma : Jhana 4 untuk kemudian 3 - 2 ( abhasara )  
Lokuttrara : bebas dari samsara & pralayanya : Asekha nibbana ( eksistensial ? + universal & transendental-nya)  
What's next ? 
- Siklus fase ke 2 Mandala Dalam Samsara berlanjut lagi (Kisah kasih nama rupa Brahmanda Lokantarika bersemi kembali sebagaimana biasanya ? ... kecuali
lokuttara & suddhavasa harusnya plus vehapala yang masih mantap & anenja yang masih terlelap juga ..... Asaññasatta ?)  
- atau... kembali ke fase 1 (kemanunggalan azali karena pencerahan keseluruhan/& keterjagaan Dia Sentra Yang Esa) 
- atau haruskah ada fase 3 (kemusnahan total karena kekacauan keseluruhan & kebinasaan Dia  Sentra Yang Esa ) 
3. Mandala Tanpa Samsara  (Fase  tanpa Dhamma - tiada Dhyana )  
tiada  Eksistensial - Universal  -  Transendental    (Segalanya tiada  tanpa Dia Sentra Yang Esa )  
Adakah Sentra dengan sigma & zenka lain ? Maha Sentra Utama ? dst dsb dll 

Tanpa Tuhan, tidak ada segalanya. Karena Tuhan, bisa ada segalanya. (wajibul & mumkimul Wujud )
Tao adalah Tao – jika kau bisa menggambarkannya itu pasti bukan Tao Laisa kamitsilihi syai'un 
Masihkah kita (diri yang hanya personal immanen) ingin (tepatnya: layak) bersaing untuk menyamai, menjadi bahkan melampaui Tuhan (Hyang juga Impersonal Transenden) ? hantu abadi atau tuhan abadi, Taoist ?

2) WISDOM = Kemantapan metanoia (K) :
prolog : kearifan ?(kemajemukan pendapat; keberagaman pandangan ; keterbatasan kemampuan)
1) Khilafiyah Theologi : kemustahilan membatasi Tuhan ? → kecerahan paradigma diantara Rimba Pendapat (keIlahian ; keberadaaan; ketentuan)
2) Problema Theodice : kemustahilan membela Tuhan?® kebijakan metanoia diantara faham pandangan (fanatisme/mistisme ; atheisme/vitalisme ; agnostisme /heuretisme)
3) Masalah Theosofi: kemustahilan mencintai Tuhan ?®kebijakan apologia diantara ragam kenyataan (kegaiban Tuhan ; penderitaan/kezaliman ; ananiyah/nafsiyah)
epilog : keimanan ?ketentuan awal > kepastian final → aktualisasi penempuhan & realisasi pembuktian

1. Menghadapi Keabadian : Swadika, Talenta, Visekha
Swadika :
Talenta, :
Visekha:
2. Menghadapi Kehidupan : kecakapan, kemapanan, kewajaran
kecakapan :
kemapanan, :
kewajaran :
3. Menghadapi Kematian : Racut , Bardo , Alam 
Racut : 
Bardo :
Alam :

Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan

Aneka Kutipan penting & Istilah Akhir 
Tiada maksud njarak atau tranyakan jika kami agak mempertanyakan mengapa posting Rekap Idea pada blog ini tidak diblokir komunitas blogger sebagaimana file sejenis lainnya ( main idea, rest idea, quo vadis ?) https://just2share4seekersall.blogspot.com/2022/12/rekap-idea-sd-11122022.html
Kalau diblokir lagi .... ya, nggak usah 'kulak perkoro' ... wasalam saja.
Well ... tampaknya kami harus peka & tanggap , nih ... Terima kasih, mungkin memang posting tersebut memang tidak tepat untuk audiens, waktu & tempatnya. Namun setidaknya kami sudah menuntaskan janji kami sejak awal pandemi lalu (Sebagaimana kami tidak mengharapkan piutang kosmik semoga saja juga tiada hutang karmik .... walau pastinya akan terniscayakan juga ?) . Well, mohon maaf atas kesalahan tsb & terima kasih atas perhatiannya.  Saatnya rehat, rekap & relax.  Begitu banyak yang masih harus diselesaikan ... semoga tetap bisa bertahan dan berjalan hingga akhir bukan hanya melaluinya namun juga melampauinya.
Kalau tidak diblokir ... berarti memang boleh diteruskan. Seeker SBNR (juga SBAR?) tampaknya nunggu sharing idea lanjutannya, sudah kami perkirakan sebelumnya ... Bisa jadi ini akan menjadi gelombang liar pengertian yang akan memporak-porandakan kemapanan lautan yang tenang ... hening dalam kesemuan, mapan dalam ketidak-mengertian bahkan kokoh dengan bangunan kepalsuannya.
Walau memang terlihat 'mbulet' untuk harus tahu diri,tahu malu dan tahu sila dalam semesta kebersamaan. Well, harusnya anda sudah dapat mensintesakan sendiri (melahirkan paradigma kebijaksanaan self gnosis wisdom exodus baru ) berdasarkan pancingan antitesa masukan kami atas thesis pandangan anda semula.)

Hidup adalah pilihan. Sebagai seeker kami memang  memilih  pandangan panentheistic ini untuk menjaga arah pandangan yang relative lebih benar, bijak & bajik dalam keseluruhan untuk senantiasa true, humble & responsible selaras dengan realitas kenyataan yang terjadi.
prinsip keesaan = memandang kesedemikianan dalam keseluruhan 
kedewasaan pencerahan untuk menerima kenyataan, mengasihi kesedemikianan & melampaui  keseluruhan. 
mata orang hanya melihat apa yang ingin dilihatnya tapi foto bisa merekam keseluruhan dari suatu tempat di waktu yang sama
trigger drakor not musics, seeker ?

Konsep :
1. Be Realistics : kefahaman perspektif kesedemikianan yang menyeluruh 
2. To Realize : kesadaran integritas untuk tulus menuju pemurnian kesejatian 
3. of Real : kelayakan pencapaian yang sesuai 
bukan candu memabukan untuk perubahan bukan racun mematikan bagi keberadaan namun spirit bagi kedewasaan pencerahan 
mulai dari diri di sini saat ini dengan paradigma cara pandang bijak tidak sekedar idea pandang  
impersonal reality 
memperluas tanpa melepas menempuh tiada menjauh 


Be Realistcs to Realize the Real  .....Untuk kesekian kalinya, apapun yang terjadi, mencintai kebenaran adalah kemutlakan (bukan pilihan …  karena jikapun tiada keselarasan dalam menyesuaikannya sebagaimana harusnya maka dengan keterpaksaan  toh kita akan tetap menerima keniscayaan akan dampak karmic & effek kosmik nya). Tidak perduli apakah nanti akan ada kemanunggalan dalam pencerahan ataupun kemusnahan untuk keseluruhan, tetaplah konsisten dalam transformasi spiritualitas yang harmonis autentik & sinergis atas kesemestaan baik eksistensial (diri pribadi), universal (alam kehidupan bersama) dan transcendental (sentra keberadaan segalanya).
Disamping kemantapan eksistensial dalam peran duniawi saat ini (citra persona biasa saja, smart skill bisa juga, asset hidup cukup) ; jangan lupa (ini justru yang utama)  siagakan untuk kelanjutan perjalanan kehidupan nantinya (level swadika keariyaan , bakat talenta kecakapan & hisab visekha kelayakan ). Sedangkan,  untuk kenyamanan keseluruhannya : berempati (pada dasarnya semuanya sama saja ... laten deitas dari Sentra sejati yang sama hanya beda label & level pada dimensi mandala pada saat ini . Well, orang lain / makhluk lain adalah sebagaimana diri kita sendiri namun saat ini berada dalam peran yang berbeda .... walau respek dalam metta atas casing 'dagelan' nama rupa masing-masing memang tetap perlu diperhatikan sesuai skenario kehidupan yang berlangsung ... tidak anggep 'arogan" & norak tranyakan ), menjaga harmoni dan bersinergi dalam kebersamaan & kesemestaan ini.

Selain sesumgguhnya memang tanpa perlu lobha  kemelekatan & dosa kebencian pada apapun/ siapapun juga .. yang perlu dihindari lagi adalah adalah moha kebodohan beraku pembandingan diri mana kesombongan atas kesetaraan segalanya

Mungkin ada yang bertanya dalam hati, ya ? apa kaitannya sampah game juga komik dimasukkan … bukankah hikmah spiritualitas lebih bermanfaat dan mendesak untuk diajukan.  (ini sungguh tidak mencerahkan bahkan bisa saja justru menyesatkan ?).
Ya … inilah seninya spiritualitas universal untuk mampu melampaui tanpa harus menjauhi. Kehidupan ini juga bisa dipandang sebagai permainan keabadian yang sering menjebak dan menyekap kita dengan keasyikannya. Saya sering tersenyum geli kekonyolan masa lalu atas kepenasaran bermain game dan menuntaskannya demi sensasi kepuasan dan fantasi keakuan yang sebetulnya naïf, liar bahkan semu …. Waktu, tenaga ,fikiran terbuang percuma demi mendapatkan kebahagiaan dan kebanggaan tersebut … walau ada keberdayaan tapi sesungguhnya ada juga keterpedayaannya. Cheat Engine akhirnya terpaksa saya gunakan untuk mementahkan obsesi naïf dan ambisi liar tersebut … bisa menang (walau memang jujur saja dengan cara curang ?) namun setelah itu menjadi hambar untuk kembali memainkan game yang sudah bisa ‘diatasi’ tsb … dan kecanduan bermain game tersebut hilang memudar dan ketagihan mencoba game lain berkurang atau bahkan tidak kepikiran juga .
Lalu bagaimana dengan reupload komik anak-anak seperti Kenji dan Chimni-Kungfu Boy ?
Cobalah untuk tidak merendahkan sesuatu demi meninggikan lainnya (ide atau bahkan ego diri) Untuk beranjak dari eksistensial menjadi transcendental kita harus bersikap universal. (Universalisasi diri sesungguhnya kunci gerbang pertama dan utama spiritualitas transenden) 
Fahamilah trick rasionalisasi pembenaran / irrasionalitas perendahan yang walau terkadang diakui sebagai kecakapan yang mengagumkan dan menguntungkan bagi sebagian besar kita dalam komunitas kebersamaan namun sesungguhnya dalam pandangan Saddhamma – Dhamma Sejati itu adalah upaya pembodohan yang sangat parah bahkan kebodohan yang amat payah … ingatlah tidak hanya ucapan yang diungkapkan dan tindakan yang dilakukan bahkan konten perasaan dan fikiran kita akan berdampak juga pada keberlanjutan diri kita nantinya apalagi jika harus ditambahi dengan beban tambahan karena penderitaan dan penyesatan atas lainnya… keburukan dan kebaikan walau tidak selalu instan ataupun identik potentially akan berbalik juga ke sumbernya siapapun kita (orang biasa atau tokoh terkemuka , tidak hanya manusia namun juga semuanya termasuk brahma, mara, dewata, asura apapun identifikasi yang kita anggapkan bagi diri sendiri atau pengakuan yang kita harapkan dari lainnya). Dalam posting Sita Hasitupada  … apakah anda mengira Buddha Gautama tersenyum karena dia bangga akan telah tercapainya kebebasan pencerahannya dan memandang rendah mereka yang masih belum terjaga bahkan lelap bermimpi dalam keterbatasan panna kebijaksanaannya? Kami memandangnya tidak demikian… Dia tidak mungkin transendental mencapai nibbana jika masih ada naifnya keakuan untuk berbangga menyombongkan diri atas lainnya apalagi karena merasa bahagia atas derita makhluk lain yang belum terjaga (malah level eksistensial tidak universal?). Itu adalah senyum murni kearifan sakshin (istilah mistik “penyaksi”?) atas kesedemikianan Realitas Dhamma atas  fenomena dhamma yang internal/eksternal – individual/universal – eksistensial/transcendental. Dalam Prajna Paramita Hrdaya Sutra (Mahayana ?) Buddha Avalokitesvara memandang segalanya walau memang beda namun setara tanpa perlu memperbandingkan dualitas pembeda (amala – avimala … suci – tidak suci). Desain advaita memang sedemikian adanya tanpa perlu mana kesombongan identifikasi semu pengakuan diri apalagi autorisasi untuk memanipulasi lainnya sehingga .universalisasi kasih eksistensialitas ‘diri’ para Ariya itu kiriya non karmik .. murni apa adanya sebagai aktualisasi kewajaran (karena memang keterjagaannya) tidak lagi sekedar pelayakan kesadaran (karena perlu keterarahannya) apalagi deficiency pencitraan (karena demi kepamrihannya).
Lagipula komik Chimni dan Kenji walau bersetting martial art sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menjadi berandalan tengik yang tranyakan memamerkan kenakalan untuk mencari perhatian atau memaksakan keinginan atas lainnya dengan kemampuan yang dimilikinya. Chimni mengisahkan kecerdasan dan ketaktisan seorang pemberdaya autodidak mengatasi permasalahan yang dihadapinya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Kenji disamping memberikan referensi aneka teknik martial art juga filosofi yang menarik terutama di akhir kisahnya…

Edwin Arnold :  
Orang yang tidak mengejar apa-apa akan mendapatkan segalanya. Dan ketika ia membuang ego, alam semesta itulah yang menjadi egonya.
Orientasi keberdayaan ini mirip dengan quote  kebahagiaan Buddhist (fake ? – Bodhipaksa): 


A man said to the Buddha, “I want Happiness.” 
Buddha said, first remove “I”, that’s ego,
then remove “want”, that’s desire.
See now you are left with only Happiness.
Seorang pria berkata kepada Buddha, "Saya menginginkan Kebahagiaan." 
Buddha berkata, pertama hapus "aku", itu ego, (atta ?)
lalu hapus "menginginkan"itu keinginan. ( tanha?)
Lihat sekarang Anda hanya tersisa dengan Kebahagiaan.

Pandangan paramatha ini mungkin terasa sangat filosofis( tidak praktis /positivist ?)
Being Nobody for  in deserving (but  and transcending!) everything
Menjadi impersonal (tak seorangpun/ bukan siapa-siapa) dalam untuk melayakan (dan melampaui) segalanya
Daripada Being somebody for having (but attaching?) something
Menjadi personal (seseorang ) untuk memiliki (tetapi melekat) pada sesuatu
Mungkin harus diganti preposisi for dengan in.(dikarenakan ini adalah keberadaan meditatif bukan tindakan reflektif )
Namun esensinya adalah jangan terlalu mengumbar keakuan juga keinginan untuk menjadi berdaya dan bahagia.
Kebahagiaan tidak identik dengan berlimpahnya perolehan tetapi juga terutama mensyukuri penerimaan. 
Kesejahteraan akan positif jika disikapi dengan santuti kecukupan dan saling berbagi namun negative jika malah menjadikan tamak serakah bahkan kikir .  Demikian juga keberdayaan tidak identik dengan pencapaian keberdayaan saja tetapi juga dibarengi dengan pencerahan kebijaksanaan juga.

Kontribusi Data Thesis juga tidak kami maksudkan untuk pamer … itu dimaksudkan memberikan masukan bagi para mahasiswa paska bukan hanya bagi berhasilnya penuntasan tugas akademis mereka, namun juga perlu dikembangkan juga  kecakapan akademis (“kelihaian” pakar?) dalam mengeksposisi (“mengeksploitasi”) data dan idea… sentra kami sesungguhnya bukan hanya pada kemasan naskah namun dari kreasi multi-link preview formula excel yang terpaksa harus dibuat (diruwat?) demi sinkronisasi data statistic (setelah sekian banyak trial-error dan mencoba masukan lain saya baru bisa membuatnya sekitar tiga bulanan …. walau cukup akurat namun harus kami akui masih belum memadai kesempurnaan pola data rendering-nya. Seandainya saja anda merasakan kesulitan para mahasiswa yang kurang flexible dalam pendekatan interactive personal dengan autoritas kampus & dosen pembimbing. Untuk menjadi pakar .. maaf (terpaksa buka kartu juga nih) …kita perlu bisa nguntul (mengikuti – skripsi deskriptif S1) ngentul (menyesuaikan – thesis kuantitatif S2) dan ngentel (mengajukan – disertasi kualitatif S3 ?) karya ilmiah yang diperlukan berdasarkan eksposisi data dan argumentasi idea yang terpilih.  Tiada maksud kami untuk mencela … karena sesungguhnya senantiasa ada hikmah yang positif yang diberikan dari hibrah yang negative sekalipun … Melalui media pembelajatan/pemberdayaan tersebut, bukan hanya IQ (kepandaian intelektual) yang berkembang namun juga EQ (keluwesan emosional) menjadi tumbuh dan AQ (Adversity Quotient – ketegaran psikologis untuk tahan banting tidak mengenal menyerah dalam menghadapi dan mengatasi masalah) semakin terasah. Kecakapan on process by product ini akhirnya juga sangat membantu dalam tugas professional kedinasan dan aktualisasi kemasyarakatan (formula Excel) untuk Pemilu,dsb.
link : Thesis
link : Excel

Bagaimana dengan input masukan agama Islam? Apa ada yang salah dengan hal itu ? kami memang lahir dan hadir dibesarkan dalam lingkungan keluarga muslim dan sayapun walau mungkin dipandang moderat (?) tetap setia hingga akhir pada tradisi agama keluarga saya. Well… saya sudah berjanji pada Almarhum kedua orang tua saya dalam kehidupan mereka dan setelah kewafatan merekapun … merpati tidak akan ingkar janji. Akan banyak disharmoni eksistensial yang malah akan sangat kontraproduktif jika saya melanggar komitmen personal ini (keluarga, masyarakat, dsb) . Jadi … walaupun saya tetap menghargai masukan lainnya namun saya tetap berada disini … sebagai seeker saya bukannya tidak faham ajaran atau sadar dampak lanjut namun inilah komitmen yang harus saya buat (dengan tanpa maksud meng-konversi yang lain untuk perlu masuk atau kembali lagi karena senantiasa ada plus minus dari ketetapan/kesesuaian yang telah kita terima/buat … walau memang levelling bukan labelling yang diperhatikan oleh Sentra Dhamma ini). Ada maksud (hutang karmic) yang harus saya terima dan jalani pada setiap episode perjalanan keabadian ini termasuk juga dalam kehidupan saat ini. Oh, ya … sampai lupa ditengah pandemic Corona inipun sebagaimana lainnya (waisak Buddhist, paskah Kristiani dsb) kegiatan ibadah Ramadhan para muslimpun menjadi terbatasi juga. Kebijakan social distancing untuk menjaga bukan hanya diri sendiri namun juga lainnya. Bekerja, belajar bahkan beribadah di rumah saja tampaknya perlu juga dihargai (walau terkadang kami juga sering nekat demi kepantasan social eksistensial yang memang perlu dijalani). Ini tambahan data untuk agama Islam.
untuk Ied dsb coba googling YouTube misal : Sholat Idul Fitri 1436 H (17-07-2015) Masjid Istiqlal Jakarta          
Imamnya dari Masjid Istiqlal KH Sinaga … kualitasnya professional tidak amatiran (‘pocokan’) seperti kami, bro. Harusnya memang demikian melantunkan surat Alqur’an (tidak sekedar mengikuti makna tapi harus juga selaras iramanya lebih mengena tumakninah kekhusyuan nuansa religiusnya  …. Nafas harus panjang … perokok berat seperti saya susah tidak akan sampai apalagi tidak punya seni qiroat yang baik… puasa saja ibadahnya banyak pasif tidur daripada aktif beramal, bro… ketahuan lemahnya pecandu, kan … rokok dan kopi mungkin memang tidak mengurangi/melemahkan kesadaran bahkan bisa jadi malah menguatkan konsentrasi penalaran … tapi setiap doping adalah semu dan terhabituasi factor eksternal jangankan untuk penembusan spiritual yang autentik untuk  penempuhan eksistensial yang holistic saja susah …. Dalam segala hal keswadikaan – kedewasaan eksternal & kewasesaan internal - memang factor penentu segalanya … kemampuan untuk mandiri tanpa manja/’aleman’ tergantung perhatian/bantuan/dukungan eksternal dan juga tidak mudah sakau, galau dan kacau karena mudahnya terganggu zazen focus keterpaduan keberimbangan diri dalam kebijaksanaan secara internal ).    
Wah … tampaknya “ngecap” kami semakin melebar dan meluas nih. Nggak ngira akan jadi sejauh dan sedalam ini. Rencana semula sih ingin segera mengakhiri posting awal kami … selama ini (dari Blog 1 tahun 2014 posting informatika tentang managemen file Ghost , beraneka ragam file postingan dan kemudian kami tutup dengan postingan informatika tentang Ghost All MB).
Namun tampaknya sudah terlanjur / kepalang basah …. Agaknya harus buka kartu lebih banyak lagi juga nih. Apalagi akhir pekan ini  Reupload kembali dengan specs hardware rendah dan bandwidth wifi lemah di rumah (wah, akan jadi hari-hari yang semakin panjang nih … dan akhirnya memang terjadi juga demikian … selama 3 /tiga/ hari di rumah sisa 7/ tujuh/ file besar Ghost @ 100 mb belum satupun bisa terupload).
Baiklah jika memang harus demikian. Disela akhir Ramadhan di tengah masih social distancing pandemic Corona kontribusi pandangan akan juga kami tuntaskan … mungkin saja seumur kehidupan (dan bahkan sepanjang keabadian perjalanan spiritualitas kita) bisa jadi ini kesempatan satu-satunya bagi kita untuk saling berbagi tema ini.
Dalam mandala ini hikmah kebenaran yang sesungguhnya tinggi  bisa saja lahir dari limbah kenyataan yang semula dipandang rendah. Respek yang setara (walau  mungkin tidak harus sama) diberikan tidak hanya bagi  pandangan Buddha Dhamma, Mistik Esoteris atau tradisi Religi bahkan addhamma sekalipun namun segalanya termasuk juga atas segala zenka keberadaan yang ada (Lokuttara Dhamma, Tao, Tuhan, Brahma /termasuk level sankhara vipassana, vedana suddhavasa, sanna anenja & Rupa Brahma Jhana 4 hingga 2 Abhasara yang tidak lagi nama sukha namun sudah rupa piti ?/ ; Wilayah kamavacara:  Mara, Yama, Dewa, yakkha, Asura /iblis?, Petta/ demit?, dunia manussa, tirachana hingga niraya lokantarika dsb) karena walau mungkin dipersepsikan dalam level/label berbeda namun secara universal segalanya berada dan melengkapi posisi  keseluruhan desain ini dengan indahnya sesuai porsi perannya maing-masing …. Sigma Kuanta cahaya dari Sentra yang sama. Yang secara bijak tak perlu dibela/dipuja? walau dipandang mulia apalagi secara fasik harus dicela/dihina? karena dianggap nista. So, mantapkan kebenaran tempuhlah kebijakan dan jalanilah kebajikan namun dengan tanpa melekatinya … ini mungkin makna tersirat nasehat Dhamma Desana Bhante Pannavaro untuk diperhatikan dalam penempuhan/penembusan spiritualitas yang berimbang bukan hanya holistic pada keseluruhan namun juga harmonis untuk keswadikaan diri.
Okey, Sadhguru Yasudev, tak akan kami simpan juga untuk diri kami sendiri wawasan kosmik Parama Dhamma dalam Mandala Advaita ini dengan Formula Swadika bagi keberlanjutan kehidupan saat ini dan juga bagi kesiagaan nanti … apapun yang terjadi terjadilah. Lagipula walau agak controversial bahkan mungkin akan jadi sensitive nantinya… toh niatan kami sesungguhnya hanyalah mengajukan kemungkinan saja tanpa memaksakan ini sebagai kepercayaan yang harus diterima sebagai keyakinan dogmatis / fanatic yang membuta. Ini hanyalah thesis pada antithesis pandangan anda semula untuk mengembangkan synthesis kebijaksanaan baru kita berikutnya. Sungguh tidak ada yang harus dilekati (bahkan jikapun pandangan ini ternyata tidak hanya sesuai dengan asumsi anda bahkan memang demikian realitas kebenarannya pada segala fenomena keberadaan)  dan juga tidak ada yang perlu dibenci atau ditolak (bahkan termasuk pandangan lain yang mungkin tidak hanya Dhammadipatheyya namun juga sekedar lokadipatheyya ataupun bahkan hanyalah attadipatheyya … karena setiap paradigma memiliki kebenaran dan juga “pembenaran”nya masing-masing walau tidak harus diterima dengan persetujuan namun tetap harus juga dihargai keberadaannya).
Link Video :
Keswadikaan pemurnian kesejatian : dari MLD (moha - lobha - dosa) /asava (anusaya- nivarana- kilesha vs panna- samadhi- sila ? )
kewajaran meng-esa & kesadaran anatta ( Taoism weiwuwei = action without actor / acting ?.... just process )


PLUS : 


 
spirituality is simple but not easy 
spiritualitas sebenarnya sederhana namun tidak mudah (difahami & dijalani )
sederhana (merendahkah ego atau merendahkan ide ?) tidak  berarti dangkal, lho 


Kutipan : 
Well, Spiritualitas walau tampak sederhana memang sangat complicated (satu gerbang ilmu hanya bisa dibuka jika wilayah ilmu-laku-teku sebelumnya bukan hanya telah difahami dan dijalani namun telah dicapai / dikuasai dan tanpa dilekati perlu dilampaui untuk memasuki gerbang berikutnya). Lagipula kita juga perlu realistis dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang ada termasuk dan terutama keberadaan diri .... sudah layak atau belum. (Nibbana baru bisa tercapai dalam Panna keterjagaan  sempurna magga phala tidak sekedar sanna persepsi sebenar apapun pandangannya tidak juga tanha obsesi sehebat apapun pengharapannya).
Namun demikian karena ketidak-mengertian seseorang cenderung menganggap sedangkal apapun sesungguhnya level pencapaian dirinya (baik itu karena realisasi, referensi bahkan sekedar identifikasi ataupun imaginasi sekalipun) melabelkan dirinya sendiri sebagai yang tertinggi mengungguli lainnya untuk diakui segala keberadaannya & dituruti setiap keinginannya ..... sehingga tidak hanya stagnan untuk berkembang dalam keberdayaan namun bahkan jatuh terjebak &  tersekap dalam keterpedayaan  yang berkelanjutan (apalagi jika bukan hanya kebodohan internal namun juga pembodohan eksternal dilakukan .... payah & parah). 
So, sebagaimana wadah yang kosong, resik dan terbuka yang memungkinkan terisi lebih penuh, murni dan terjaga bukan hanya perendahan keakuan untuk melayakkan peningkatan reseptivitas diri namun tampaknya perlu penghampaan keakuan untuk lebih melayakkan penyelaman/ pencerahan yang lebih dalam lagi. Spiritualitas yang dewasa mutlak memerlukan kelayakan dengan pemastian kehandalan bukan sekedar pelagakan meyakinkan kecitraan belaka. Pencapaian keberdayaan untuk menghadapi segala kemungkinan tidak sekedar menggantungkan pengharapan kepercayaan yang bisa saja semu adanya... kemelekatan fanatis atas dogma justru akan bisa kontraproduktif sebagaimana pelekatan naif lainnya. 
Fokuskan saja realisasi pada pelayakan Ariya .... Nibbana atau Samsara terserah Niyama Dhamma. Di wilayah manapun dalam peran apapun pada situasi dan kondisi apapun juga seorang Ariya tetap akan mampu bermain apik tidak hanya secara cerdas tetap swadika dalam keterarahan namun juga tetap dengan cantik tanpa mengacaukan segalanya. (Ibaratnya CR7 atau Lionel Messi yang walau sesungguhnya bisa mengatasi bermain bola di klas liga dunia namun jika hanya tampil di turnamen kampung .... pasti akan lebih menguasai tentunya). Pencerahan adalah utama ... pembebasan 'hanyalah' bonusnya saja. Obsesi internal sebagaimana ambisi eksternal adalah tanha yang tersamar sebagaimana juga avijja lainnya (Ashin Tejaniya : jangan remehkan asava defilement karena ketika peremehan dilakukan anda sesungguhnya terlecehkan sendiri karena dijatuhkan dengan kesombongan anda ... awas spiritual materialism Chogyam Trungpa)
Inilah sebabnya kami lebih suka istilah sederhana kedewasaan pencerahan ketimbang perayaan kebebasan (karena lebih : true, humble & responsible untuk tetap terjaga , menjaga & berjaga dari segala kemungkinan ... Kebenaran adalah Jalan Kita semua tetapi bukan Milik kita, Diri Kita dan Label Kita ... Anatta ? .. Well, hanya Sang Kebenaran (baca: Hyang Esa ... Tuhan Transenden dalam triade Wujud, Kuasa & KasihNya atas laten deitas keIlahianNya di segala mandala immanenNya yang nyata, mulia dan benar dalam kesempurnaanNya) yang benar. Sedangkan kita dalam keterbatasan & pembatasan yang ada memang sering bodoh, bisa saja salah, dan bahkan mungkin jatuh  namun tetap perlu segera bangkit kembali menempuh jalan benar itu dengan benar dalam niat, cara,& arah tujuannya ...  terjaga untuk evolusi eksistensial , menjaga bagi harmoni universal & berjaga demi sinergi transendental.
SEE = Link : data apa itu kebenaran  & Link : video there is no truth Bhante Punnaji. di atas
KUTIPAN  : See :  apa itu kebenaran  Bhante Pannavarro.
Lim, kalau kamu bertanya dan mencari kebenaran, kebenaran itu persis seperti panasnya lampu minyak yang barusan kamu rasakan. Ada namun tidak terlihat, terasa namun tak dapat digenggam, mengelilingimu dengan cahayanya namun tak dapat kamu miliki, semua orang merasakan hal yang sama, melihat pancaran lampu tersebut, namun saat ingin dimiliki atau disentuh dia tak tersentuh, namun dapat dilihat dan dirasakan, itulah kebenaran. 
Kebenaran itu universal Lim, milik penciptanya dan segenap dunia ini, namun saat kebenaran ingin dimiliki oleh satu orang saja atau satu kelompok saja, dia akan langsung menghilang tak berbekas, karena kebenaran itu untuk disadari, dijalani bukan untuk dimiliki oleh makhluk yang Annica ( Tidak kekal) ini, makhluk yang Lobha ( Serakah) ini, makhluk yang penuh Irsia ( Iri hati) ini, makhluk yang penuh dengan Moha ( Kebodohan) ini dan bukan pula punya makhluk yang penuh dengan Dosa (Kebencian) ini. Disaat sebuah kebenaran sudah di klaim oleh orang lain atau hanya milik sebagian kelompok saja, maka kebenaran tersebut akan berubah menjadi pembenaran, menurut dirinya sendiri, menurut maunya sendiri, menurut nafsunya sendiri. 
Jadi Lim anakku, berjalanlah diatas kebenaran, lakukanlah yang benar benar, namun jangan sekali kali muncul keinginan untuk memiliki kebenaran yang universal tersebut, karena kebenaran itu universal tidak dapat dimiliki oleh siapapun kecuali Sang Pencipta kebenaran itu sendiri. 
semoga dapat dipahami dan semoga semua makhluk berbahagia lepas dari penderitaan selamanya, Sadhu sadhu sadhu..

intinya : Spiritualitas adalah masalah aktualisasi .autentik meniscayakan kesedemikianan dalam keseluruhan.
beragama ? beragamalah namun tidak tereksploitasi apalagi mengeksploitasi. Ingat ada kaidah kebajikan universal untuk harmoni.
bermistik ? bermistiklah namun tidak teridentifikasi apalagi mengidentifikasi. Ingat ada kaidah kebijakan transendental untuk evolusi.
berdharma? berdharmalah namun tidak teralienasi apalagi mengalienasi. Ingat ada kaidah kebenaran eksistensial untuk sinergi.
Atheisme, Agnostisme , dst ? jika alergi dengan terma dogmatis varnatmak "Tuhan" dan sejenisnya ganti saja dengan istilah filosofis 'Dhunyatmak' Causa Prima (sebab awal keazalian) , Sentra segalanya (Inti utama keberadaan) atau Orientasi destinasi (asymptot tujuan akhir kesejatian abadi) atau lainnya. Ini bukan masalah kepercayaan namun keberdayaan, tidak sekedar pengharapan atau penganggapan belaka namun murni masalah pemberdayaan peniscayaan kesedemikianan ... just idea (etika bukan dogma). Ini bukan agama dan seharusnya tidak dipandang sebagai dogma dan sebaiknya selanjutnya juga tetap disikapi / difahami demikian sebagai idea saja adanya. Tidak ada figur sesembahan yang baru, kredo keimanan yang beda ... hanya share idea pengetahuan (imaginasi inferential filosofis ?) & etika penempuhan (realisasi experiential ? sebatas referensi belum realisasi ... jujur saja masih padaparama dihetuka, hehehe )  
Sesungguhnya kami tidak nyaman untuk jujur mengakui ini ... kami sebetulnya faham dan cukup tanggap bukan hanya akan silogisme tersirat namun juga fakta kenyataan di lapangan ....ini tidak sekedar tuduhan pembangkangan mereka bagi pengumbaran vitalisme neurotik saja namun terkadang autentik memang dikarenakan pandangan kebijaksanaan demi altruisme holistik yang diidealkan . Singkatnya, kehidupan berkeagamaan ,berketuhanan (dsb) kita memang sering tidak sesuai dengan evolusi, harmoni & sinergi yang seharusnya (ber-etika, bermartabat dan memberkahi  dunia ini ) bahkan seringkali justru sebaliknya (menyesatkan, menyusahkan & mengacaukan bukan hanya sekedar diri sendiri namun juga orang lain, komunitas kebersamaan bahkan ke segala dimensi keberadaan hidup ini) apalagi jika memang ada celah hujjah untuk melegitimasi pembenaran kepentingan pelaziman kezaliman tersebut (trium falisme - standar ganda - pembenaran addhamma diri bagi lainnya ?).  
Bukan maksud kami mengacaukan permainan peran (dagelan nama rupa) yang tengah berlangsung (sudah, sedang dan akan demikian juga nantinya) dengan mengungkapkan realitas kebenaran & fenomena kenyataan (pembabaran Dharma ... sungkan, bro? ... introspeksi level spiritualitas diri :padaparma dihetuka) apalagi kebodohan internal & pembodohan eksternal (pembeberan Avidya  ... riskan, lho ... harmonisasi label eksistensialitas diri : umat beragama  & berTuhan) untuk share idea yang relatif agak berat, luas & mendalam ini  bagi orang kebanyakan.  Kami cukup faham dan juga sadar akan keniscayaan konsekueensi penempuhan yang memang tidak selalu selaras bahkan terkadang sering kali justru tidak sejalan dengan kebijaksanaan pengetahuan kami sendiri tersebut. 
Semula kami menujukan share ini bagi kita insan beragama untuk minimal membawa kebaikan & perbaikan bagi semua (diri, alam & sesama lainnya) karena di alam dimensi manapun kita (dunia saat ini atau alam nanti) sebagai apapun kita (manusia, hewan, petta, yakha, asura , niraya etc... dewa, mara, brahma, ariya dsb) kebaikan & perbaikan kualitas diri dan alam tsb harus tetap terjaga & dijaga keberkahanNya untuk evolusi pribadi, harmoni dimensi & sinergi valensi keberadaanNya. Namun tampaknya mungkin justru mereka yang akan lebih bebas leluasa tanpa jeratan/ sekapan harmonisasi paradigmatik eksistensial  dalam memetik manfaatnya karena akan lebih autentik, harmonis & holistik  dalam memahami & mengembangkan bukan hanya kemendalaman / kebijaksanaan  pengetahuan namun juga capaian penempuhan dan layaknya keniscayaan selanjutnya. Well, sesungguhnya diperlukan tidak sekedar hanya kebaikan (kamavacara), kearifan (brahmanda) ataupun kesucian (lokuttara) namun juga keutuhan (apa istilah term baru ini ...self term kami : Adhyatama saja, ya ? Maha Diri Azali Hyang Abadi ) sedangkan untuk ke'zero'an selanjutnya tidak kami rekomendasikan (dampak annihilisasi diri zenka bagi alam sigma & inti sentra, labirin paradoks tanazul MLD kejatuhan lagi & terutama level spiritualitas diri ...hanya Asekha diri yang telah murni dari jebakan delusi keakuan/ sekapan tanha kemauan samsarik maka  paska nibbana juga advaita & paramatta yang memang layak (tidak asal berlagak  ... jadi kita ? ya nggak mungkinlah. Secara autentik kualitas Keakuan kita masih naif apalagi kemauan kita masih liar ... walau mengharapkan pembebasan Nibbana, mendambakan manunggaling kawulo gusti Brahmanda ataupun dijanjikan layak jannah astral namun ... jika saja tidak didukung dengan akumulasi kelayakan yang memungkinkan keniscayaannya tampaknya memang harus barzah eteris dulu karena memang kelayakann/kelaparan akan penganggapan & pengharapan itu atau jika akumulatif MLD memang besar/ sangat tebal akan jatuh lebih rendah lagi dari sebelumnya ) Lanjut ke asymptot ke'zero'an .... namun demikian kalaupun mungkin memang layak dan juga  mampu (?) Dia mungkin akan tetap benar, bijak dan bajik untuk tidak menembus keIlahian Inti Hyang tidak hanya personal immanen namun juga Impersonal transenden ini demi kebijaksanaan keseluruhan kesedemikianan ini ... Dalam keswadikaan diri menjadi selaras dalam keseluruhan mungkin memang lebih tepat (tanpa harus hebat ? jumbuhing karso kawulo gusti x manunggaling wujud kawulo gusti ! ) ketimbang sempurna dalam kesemestaan alam & kesendirian inti pada mandala kesedemikianan ini ? (Imaginasi inferential filosofis gila atau gila-gilaan, nih .... hehehe, asal kesadaran tidak gila beneran dan kewajaran masih tampak waras ndagel patut x mbacut mbadut bersama figure peraga lainnya ). Secara pribadi kami tidak memandang tinggi / rendah wilayah  karena segalaNya berada dalam mandalaNya  dan  seharusnya juga kepada segala ego  figure/ ide konsep yang memang/ mungkin 'ada' padanya ... terlepas dari preferensi keinginan & hierarki kelayakan yang terjadi.



Dicoba ....
Audience , Waktu & tempat ? susah juga ....  
Audience ? idealnya para pemerhati spiritual yang walau tidak terlalu cakap (faham abhidhamma misalnya) namun perlu moderat (bisa menerima pandangan yang berbeda tanpa harus percaya begitu saja apalagi langsung menyela & mecela jika berbeda ... well, SBNR sekuler tampaknya akan lebih baik namun SBAR pluralis bolehlah jika sudah cukup mampu memandang adanya keselarasan, keterpaduan dan keterarahan pelangi perbedaan akan/atas mentari kebenaran yang sama ...  plus kejanggalan penyimpangan untuk dimaklumi/ dihindari & kemungkinan pengembangan melalui/ melampauinya). Mistik kejawen ? okelah ... namun perlu kami tekankan ini adalah masalah pengembangan kesadaran spiritual on process bukan pemanfaatan kecakapan metafisik by product (sebagai padaparama jujur saja kami tidak mampu ... bahkan kalaupun mampu kami seharusnya tetap juga seharusnya tidak perlu tersekap di dalamnya )
Waktu ? seharusnya ini hanya baru akan bisa terungkap di masa depan itupun jika dalam laju lineariras waktu yang dijalaninya manusia sudah tumbuh berkembang secara spiral membaik/maju meningkat tidak siklis berbalik/mundur terjatuh sebagaimana kecenderungan episode samsarik yang walau sebetulnya mampu dilampaui namun susah juga terjadi (apalagi jika ada vandalisme pemaksaan / penyesatan/ kelengahan yang menghancurkan / memundurkan perkembangan proses keberadaban & peradaban yang sedang berjalan baik internal maupun eksternal ?) ... Kebenaran, kebajikan & kebijakan itu walau merupakan keutamaan yang seharusnya secara sadar & wajar dijalani namun dalam bumi kenyataan ini sesungguhnya memang lemah &  rapuh (mudah hancur dan dihancurkan oleh keganasan yang semu, naif & liar, Osho ?) apalagi jika semakin rendah layer dimensi semestanya & semakin dangkal level pribadi penghuninya,  
Tempat ?  lokadhatu duniawi saat ini mungkin belum tepat walau tidak terlalu tidak tepat. konsideransi ? 
kutipan : Keberadaan sebagai manusia di mayapada dunia ini memang tidaklah seindah surga Devata kamavacara atau semulia jhana moksha para Brahma, namun demikian walaupun tidaklah sekondusif wilayah antara suddhavasa tetapi keberadaan mediocre ini justru bisa menjadi effektif bagi pertumbuhan dan perkembangan spiritualitasnya jika cukup reseptif menghayati, menjalani dan melampauinya secara benar , sehat dan tepat … tidak hanyut dalam arus eksistensi namun tidak juga teralienasi.
Secara ideal audience, waktu & tempat memang tidak ada dan tidak akan pernah ada bagi evolusi, harmoni & sinergi bagi spiritualitas untuk mudah tumbuh dan berkembang karena kita bukan hanya harus autentuk menerima fakta kenyataan secara  sesuai namun juga ada level kebenaran yang harus dilalui secara harmonis dan stage keutamaan yang harus holistik dilampaui . Namun demikian justru karena adanya faktor negatif yang ada tersebut yang postif  akan bisa diwujudkan. Lagipula, segalanya memang harus dimulai dari diri kita ini, disini dan saat ini ... apapun level pribadi, situasi & kondisi semulanya.
So, Perlu pandangan yang utuh totalitas, pragmatis berguna & konsisten berlanjut dalam mandala yang homeostatis interconnected, equilibirium bagi keseluruhan / keselarasan / kesedemikiannya bagi aktualisasi yang autentik, harmonik & holistik (tidak layak identifikatif , tidak perlu alienatif  dan tidak patut eksploitatif).
Quantum leap bagi paradigm shift dalam stagnansi keberagaman filsafat & psikologi di era post modern ini dst ? 
Fase Religius Soren Kierkegard < Positivistik Auguste Comte < .... ?  (estetis-etis-religius)< (teologis-metafisis-positivist) < ... ?
langsung saja : Panen-istics atas triade diri , alam & inti ?
Panen-ego-istics ? panentheisme Hyang Esa 
Panen-geo-istics ? panentaoistic Hyang Ika
Panen-deo-istics ? panentheistics Hyang Ada
Masih, mbulet ya ? rehat dulu lagi saja ... cari familiaritas akurat diksi kata/ wacana idea yang mudah/ tepat agar lebih jelas/dekat  sesuai maksud kami).

ikutan agak tricky cari celah demi diterima di Indonesia, hehehe ? (keTuhanan yang Maha Esa, Bhineka Tunggal Ika ... apalagi, ya ? Cahaya Pancasila ? ... wah, kok jadi lebai berlebihan melampaui batas begini ? ... padahal kebenaran sejati itulah yang hakiki selalu terjadi walau tidak butuh diakui atau disetujui siapapun juga ) Jadi inget adaptasi / adoptasi istilah Ashin Jinarakita tentang Keilahian tanpa klaim yang tidak lazim untuk keilahian impersonal Buddhisme di Indonesia sebagai Hyang Adi Buddha atau para Theosofi Sufisme bagi Tuhan Transpersonal yang (tidak mudah namun perlu) dikenal atas Tuhan Personal yang sudah 'akrab' dikenal (Nous = Nur Muhammad etc untuk filosofi Plotinus tentang Logos Tohen bagi desain tanazul taraqqi ekstase atas emanasi penempuhan transendensi keIlahian, Suhrawardi ?). Well ... kami tanggap itu dimaksudkan untuk mensublimasi kemuliaan tidak dalam niatan mendegradasikan atas konsep/ figure yang dimaksud demi transendensi ke wilayah samudera keilahian yang lebih terarah murni tanpa perlu menyimpang (lampaui faktisitas pembatasan atau keterbatasan istilah ?).

atau dari kutipan posting lalu :   

Panen-ego-istics ? panentheisme Hyang Esa .... Kasih
Jadi  turun level agak romantis lagi, nih .... ingat refleksi pribadi "Kun Saidan" (Berbahagialah - Anisah May dari Tasauf Modern Hamka ) ... Just loving the Love. Cintailah Cinta (Sumber Sejatinya bukan sekedar Media Obyeknya). Cintailah Tuhan (baca: Kebenaran) sebagaimana kehendakNya bukan hanya sekedar untuk mengumbar kepentingan ego yang selfish. Karena apapun yang diberikanNya (sekalipun seburuk atau seberat apapun itu tampaknya di permukaan) adalah tetap yang terbaik bagi kita ... karena itu demi kebaikan pemberdayaan kita bukan untuk memperdayakan kita. Atau dalam Mistik Theosofi dikatakan Tuhan menjadikan ini semua dengan cinta oleh karenanya dengan cintalah hendaknya kita menempuhnya untuk memahami dan mencintai kebenaran itu sebagaimana adanya..
3 dantien = akal - hati - pusat (tidak ada yang salah dari semuanya jika selaras terpadu ?)
Wah, agak melantur tampaknya bahasan kearifan samsarik & curhat pribadi ini. Semoga para Neyya (terutama para pabajita) tetap mampu waspada terjaga dan tidak hanyut terbawa arus idea ini. Para Mistisi (Tantrik Osho, Taoism ?) kadang terjebak dan tersekap dalam labirin sex - cinta - kasih ini. Sex atau birahi (kama) bersifat nafsu sensual, cinta (sneha) bersifat personal , sedangkan kasih (metta) bersifat kosmik impersonal. Ini kami ungkapkan bukan hanya karena kami memandang tetap perlunya pembabaran Saddhamma yang walau memang ditempuh secara eksistensial hendaknya juga melampaui universal untuk menjangkau transendental demi transformasi pencerahan spiritual yang dijalani. Alasan lain adalah dikarenakan kami memandang living kosmik ini utuh dalam keseluruhan (katakanlah semacam organisma besar) maka perlu perimbangan kemurnian nirvanik yang arif/kuat mengatasi kecenderungan alami samsarik yang 'naif/liar' untuk membuatnya cukup 'sehat/ tepat' agar tetap mantap bertahan dan lancar berjalan. Jikapun tidak memungkinkannya dalam keterjagaan pencerahan total keseluruhannya minimal tidak membuatnya jatuh terpuruk dalam kehancuran. Meminjam istilah Sadhguru Yasudev (?), Karma samsarik sesungguhnya tidak hanya berdampak sebatas pada pribadi eksistensial pemerannya saja namun juga bereffek pada wadah arena semesta universal yang menampungnya. Atau menganalogikan dalam Mistik Hinduism (day & night of Brahman ) seandainya samsara ini hanya Ke-Esa-an yang terlelap bermimpi, maka jika beliau terjaga semoga senantiasa lebih segar karena kecerahan tidur tanpa "mimpi buruk"nya ....mungkin perumpamaan itu bisa menjadi pemicu baru mengapa transendensi eksistensial evolusi pribadi perlu dijalankan dan transendensi universal harmoni dimensi perlu diusahakan ... (sekedar tambahan terma filsafat theosofist ini : eros - filia - agape ? cinta sensual - altruisme kemanusiaan - kasih keIlahian ) 
So, Be Selfless (not  selfish ? ) 

INFERENSI DIMENSI = 
urut dari bawah gradasi vs MLD avijja diri (dampak karmik & effek kosmik)

NO

WILAYAH

LAYER

ORIENTASI

MODE

SIFAT

TERM

TYPE

 DIRI ?

 TATARAN 

1

Kamavacara

Eksistensial

Kebahagiaan

Eksploitasi

Transaksi

Lillah

Persona

Mengaku (sebagai aku)

Personal

2

Brahmanda

Universal

Kesemestaan

Interkoneksi

Harmoni

Billah

Monade

Mengesa (sebagai kita)

Transpersonal

3

Lokuttara

Transendental

Keadvaitaan

Aktualisasi

Sinergi

Fillah

Sakshin

Meniada (sebagai dia)

Impersonal

Selesai ? masih belum .... orientasi kebijaksananaan kesedemikianan kita adalah keselarasan bukan kesempurnaan, bro (ingat : kode etika 10 Ali Shariati  )
Jadi, Gnoti Seauton (Kenalilah dirimu /sebagai makhluk ?/) karena Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu hanya dengan mengenal diri (dengan segala keterbatasan makhlukiyahnya betapapun hebat pencapaian dan megah pengakuannya) maka kita akan mengenal Tuhan (Hyang Maha Sempurna dan SegalaNya). Ini adalah orientasi keyakinan awal dan juga realisasi kebenaran akhir. Dr. Ali Shariati melambangkan 1 adalah Hyang Esa, 0 adalah makhlukNya.  Meminjam istilah beliau ; berikut adalah paradigma kerobbanian yang menjadi orientasi awal bagi ketawaddhuan yang juga akan kembali menjadi  realisasi akhir bagi kecerdasan manusia. (*) = 1 tetap bernilai walau 0 tidak ada. 0 tidak bernilai jika 1 tidak ada. Maksudnya = Tuhan tetap ada walaupun makhluk ada ataupun tidak ada. Tuhan (kholik) adalah wajibul wujud yang keberadaanNya mutlak adanya ; selain itu (makhluk) adalah mumkimul wujud yang keberadaannya relatif adanya ~ bisa ada, bisa juga tidak ada ~ terserah dan berserah kepada kehendakNya. Tanpa Tuhan, segalanya tidak akan pernah ada. Tanpa segalanya sekalipun, Tuhan tetap ada.  Dia adalah  Hakekat yang merupakan penyebab dan kembali segala yang ada (baca: diadakan untuk mengada jadi tidak perlu terlalu meng-ada ada). (*) = 1 di depan 0 jauh bernilai dibanding 0 di depan 1 . Maksudnya = Jadilah pribadi 10; Pribadi yang mengedepankan Tuhannya diatas segalanya (termasuk dirinya sendiri). 0 didepan 1 dibelakang hanyalah bernilai 1 (satu) – ini gambaran pribadi yang mengedepankan selainNya pada kehidupan. Amaliah menjadi tak sempurna karena syirik, pribadi tidak konsisten karena terombang-ambing kepentingan duniawi/ kebanggaan berpribadi. Bahkan jika pada akhirnya yang satu (1) itu menjadi hilang, maka seluruh kehidupan kita tinggal 0 (baca: nol besar). (*) = 1 dibagi 0 tak terhingga ; 0 dibagi 1 tak berharga. Maksudnya = Pribadi yang berkarakter kuat dan cerdas adalah pribadi dengan kekuatan dan kecerdasan yang tumbuh berkembang karena ketawadhuan bukan dengan ketakaburan. 0 dibagi 1 tetaplah 0 – ini gambaran kecerdasan dan kekuatan diri dengan ketakaburan. (Lemah dan rapuh karena sesungguhnya :Tiada daya upaya tanpa izinNya.)  Namun … 1 dibagi 0 adalah tak terhingga – ini gambaran kecerdasan dan kekuatan diri karena ketawaddhuan. (Senantiasa tumbuh dan berkembang dalam keridhoan dan petunjukNya)

Panen-geo-istics ? panentaoistic Hyang Ika.... Kuasa
Bagaimana dengan Tao ?
Tao sering didefinisikan sebagai Roh Universal yang berada dalam segalaNya ... Kesempurnaan azali yang terus menyempurnakan kesempurnaan abadiNya.
Konsep absurd : Tao adalah Tao – jika kau bisa menggambarkannya itu pasti bukan Tao. 
Well ... Paradigma Panen-Tao-istics mungkin bisa juga digunakan SBNR karena ini walau sekuler namun akan lebih ilmiah ketimbang panen-Theis-tics SBNR yang kami ajukan karena lebih autentik & holistik tersentralisasi untuk aktualisasi penjelajahan tanpa terbelenggu sakralisasi ... namun jaga keberimbangan & keseimbangan dalam pertumbuhan perkembangannya agar tetap teraktualisasi sempurna dalam pengetahuan, penempuhan & penembusannya .
Wah .. paramitta Boddhisatta 3 layer untuak akselerasi pelayakan keniscayan diri  jadi boleh dilakukan bagi evolusi pribadi namun tetap jaga harmoni kebersamaan dan sinergi kesemestaan jika tercapai kelayakan untuk tidak jatuh apalagi menjatuhkan lainnya. 
Be True, Humble & Responsible ? harusnya lebih tepat/ nekat lagi ... True dimaknai sejati tidak sekedar dalam laku kejujuran namun asli autentik dalam kemurnian, humble menghampa untuk sempurna merengkuh segalanya tidak sekedar merendahkan hati untuk reseptif meninggikan kelayakan diri & responsible karena memang itu keniscayaan yang terjadi, kan ? (Jadi tidak lagi perlu benalu pengharapan  yang akan merendahkan kelayakannya apalagi penganggapan konyol keakuan yang justru bukan hanya memandekan namun bisa saja menyesatkan dan menjatuhkan level realitas ... labirin paradoks papanca input karena output ?) Just Wei Wu Wei ... hanya persembahan keutamaan (wah ...  termanya lebai banget ... untuk sekedar pengetahuan bolehlah tetapi untuk menghindari klaim penghebohan kepekokan bagi penempuhan untuk penembusan risih juga,nih ... main kepekaan rasa tidak asal klaim idea saja, bro ... hanya ada tindakan kebaikan tanpa keakuan yang ingin pengakuan apalagi pemujian/ pemujaan dan tiada kemauan untuk mementahkan kelayakan peniscayaan yang seharusnya memang sudah pasti .. Meminjam istilah Panen-Theistics SBAR kami : kita hanyalah ketiadaan murni yang seharusnya selaras mengada dihadapanNya tanpa harus mengada-ada dalam keakuan tiada perlu meng-ada adakan dengan kemauan .... apa yang layak akan terlayakkan pada saatnya karena itu kaidah Dhamma kebenaran di setiap dhamma kenyataan sesuai dengan kepastian Dhamma dari DhyanaNya.
SegalaNya (Laten DeitasNya) bermula, berada dan kembali kepadaNya (triade : diri – alam – inti )
Bermula karena katalisasi peniscayaan keberadaan > emanasi keilahian brahman > prokreasi penciptaan ketuhanan
Berada dalam kaidah kosmik (Parama Dhamma akan advaita niyama dharma : keutamaan > kebenaran > kenyataan )
Kembali kepada mandala advaita ( segalanya berada dalam sigma kewilayahan yang sama dari ketidak-terhinggaan yang bukan hanya mungkin memang sudah ada namun juga belum ada , akan ada bahkan susah ada karena konfigurasi peniscayaan yang sudah/belum/akan/tidak terpenuhi.) 
Gradasi tidak hirarki ? karena walau beda level , layer & label keberadaannya berada dalam kealamian, keilahian & kemurnian advaita mandala yang sama
Ah ... Susah juga memadukan apalagi mengungkapkan (terlebih lagi merealisasikan) paradigma kebijaksanaan kesedemikianan demi keselarasan bagi keseluruhan. Maaf, Socrates ... terpaksa untuk mempermudah & memperjelas paradigma kesedemikian ini kami ajukan framework deduktif  tidak lagi induktif majeutike terus ... walau bukan hanya sungkan, riskan & kompleks rintisan pandangan ini.
Berhadapan dengan ketidak-terhinggaan ... bagi setiap pemberdaya ... langit senantiasa tiada batas umtuk senantiasa tumbuh berkembang dalam keberdayaan melampaui segala labirin keterpedayaan & pemerdayaan yang senantiasa ada mengintai dalam setiap evolusi, harmoni & dimensi yang diskenariokanNya. Aktualisasi holistik Kusala Kiriya para Sakshin Ariya tanpa perlu mengalienasi , mengidentifikasi apalagi mengeksploitasi (bukan hanya internal namun juga eksternal ... demi eksistensialitas, universalitas & transendentalitas yang terrniscayakan via kefahaman, kecakapan & kelayakan ... sebagai kesadaran dalam kewajaran sebagaimana adaNya ... lillah, billaah, fillaah .... Wei Wu Wei  (Just action .. without acting & actor ?).

Panen-Deo-istics ? panentheistics Hyang Ada.... Wujud
MANDALA SEMESTA 


Desain kosmik mandala ini memang kelihatan aneh & unik ... banyak paradoks & labirin dalam sistemNya. Well ... mentari Dhamma kebenaran transendental yang tidak hanya translingual  namun juga transrasional mungkin memang harusnya demikian agar ada ruang / peluang bagi avidya kebodohan secara semu, naif bahkan liar membiaskan pelangi semu keberagaman ... agar bisa makin mengesankan (juga mengenaskan) kepekokan & lebih mengasyikan (juga mengesalkan) kehebohan  dagelan nama rupa samsarik di dalamnya, hehehe .
Secara mikrokosmik jika diri bertransendensi semakin ke atas & ke dalam (realisasi> aktualisasi x defisiensi) justru secara makrokosmos semakin luas wilayahnya (bukan hanya memungkinkan kemantapan saat ini namun juga melayakan peniscayaan fase berikutnya disamping  melingkupi permukaan yang di bawah & di luar sebelumnya) ... So, triade realisasi evolutif (zenka keberadaan diri), aktualisasi harmonis (sigma kebersamaan alam) dan sinergi holistik (sentra kesedemikianan inti) mutlak secara simultan progresif difahami , dijalani dan dilampaui untuk tidak stagnan tumbuh berkembang tanpa harus tersesat dalam labirin apalagi tergelincir dalam kejatuhan (saran ideal bagi kita yang idiot, bro)
Mandala Samsarik Buddhisme (31 alam kehidupan) 

atau tabel hipotesis yang agak 'gila' dari kami ini 
Skema Wilayah Tanazul Genesis & Taraqi Ekstasis meniscayakan keterrealisasinya transendensi impersonal bagi evolusi pribadi demi harmoni dimensi  

 

Wilayah

1

2

3

Transendental

Nibbana ‘sentra’ ?

Belum diketahui ? 7

Tidak diketahui ? 8

Tanpa diketahui ? 9

 

Nibbana ‘sigma’?

Belum mengakui ? 4

Tidak mengakui ? 5

Tanpa mengakui ? 6

 

Nibbana ‘zenka’ ?

Arahata 1

Pacceka 2

Sambuddha 3

Universal

Brahma Murni  (Suddhavasa)

Anagami 7 (aviha Atappa)

Anagami 8 (Sudassa Sudassi)

Anagami  9(Akanittha)

 

Brahma Stabil (Uppekkha )

jhana 4 (Vehapphala)

Asaññasatta 5 (rupa > nama)

Anenja 6 ( nama > rupa arupa brahma 4 )

 

Brahma mobile (nama & rupa)

Jhana 1 (Maha Brahma)

Jhana 2 (Abhassara)

Jhana 3 (Subhakinha)

Eksistensial

Trimurti LokaDewa

Vishnu 7 (Tusita)

Brahma 8 (Nimmãnarati)

Shiva 9 (Mara?  Paranimmita vasavatti)

 

Astral Surgawi

Yakha  (Cãtummahãrãjika) 4

Saka  (Tãvatimsa) 5

Yama (Yãma)6 

 

Materi Eteris

Dunia fisik(mediocre’ manussa  &‘apaya’ hewan iracchãnayoni) 
+ flora & abiotik ? / 1
Eteris Astral apaya (‘apaya’ Petayoni & ‘apaya’ niraya)
2
Eteris Astral apaya Asura  (petta & /eks?/  Deva ) 
3

Tersenyum seperti Buddha
(Smile like a Buddha ... not as a Buddha ? ) 
Be Realistics to Realize the Real 

Tersenyumlah seperti Buddha walau itu memang masih 'fake' (semu) dan tidak 'real'(nyata).
Ini bukan dimaksudkan untuk 'memotivasi' diri bagi kesombongan pencitraan diri dengan melagakkan seakan pencapaian keniscayaan telah terjadi hanya dengan cara itu.
Ini dimaksudkan untuk mengarahkan diri untuk kebijaksanaan penyadaran diri dengan melayakkan peniscayaan keniscayaan yang secara murni dan alami seharusnya terjadi.
Senyum kearifan Ariya yang melampaui sikap positif apalagi negatif.

Bagi Dia yang sudah terjaga itu ekspresi authentik 
Bagi kita yang belum terjaga itu exercise holistik

Tersenyum seperti Buddha JMB 5
karena terfahami secara intelektual simsapa kebenaran spiritual
Kecakapan Pandangan benar akan mengarahkan fikiran benar (kesadaran notion batin)
Kecakapan fikiran benar akan mengarahkan tindakan bajik (ketulusan dana sila etc)
Kecakapan tindakan bajik akan mengarahkan asset mulia (kemurnian punna kusala )
Dhamma indah pada awalnya dengan terlampauinya tataran eksistensial diri
(harmoni dunia - terhindar apaya - terlayakkan surga = Dibba Vihara )

Tersenyum mengarah Buddha JMB 8
karena tercapai secara meditatif acinteya hakekat kenyataan spiritual
Paska asset mulia terus lanjutkan Adhi-Sila (alobha -adosa - amoha : tihetuka)
Paska Adhi-Sila terus lanjutkan Adhi-Citta (Samma Samadhi : Jhana Brahma )
Paska Adhi-Citta terus lanjutkan Adhi-Panna (Samma Vipasana: Gotrabu Nana?) 
Dhamma indah pada pertengahannya dengan terlampauinya tataran universal diri
(harmoni batin - terlampaui moksa - terlayakkan magga  = Dhamma Vihara )

Tersenyum sebagaimana Buddha JMB 10
karena terbukti secara insight advaita desain labirin permainan spiritual
Dengan masaknya Adhi-Panna layaklah Realisasi Keterjagaan (nibbana: pemurnian magga/phala  )
Dalam Realisasi Keterjagaan layaklah Realisasi Kebijaksanaan (panna: sabbanutta/ patisambhida?)
Dalam Realisasi Kebijaksanaan layaklah Realisasi Ketercerahan (kiriya: kusala  non karmik?)
Dhamma indah pada akhirnya dengan terlampauinya tataran transendental diri 
(harmoni - terbuka nibbana - terlampaui samsara  = Ariya Vihara )

Dhamma akan melindungi siapapun yang menempuhnya dengan benar, tepat dan sehat.
Teruslah memperjalankan 'diri' demi semakin terjaganya orientasi, kualifikasi & realisasi
Jalani saja proses penempuhannya secara murni tanpa perlu ambisi/obsesi yang menghalangi.
Layakkan diri sebagaimana kaidah Niyama Dhamma meniscayakan pelayakannya secara alami.
Terima, kasihi dan lampaui segala episode penempaan diri sebagaimana ariya nantinya.
Layakkan diri sebagai Ariya ... maka jikapun nibbana pembebasan belum (mampu/perlu?) tercapai , maka keterjagaan, kebijaksanaan dan ketercerahan akan membawa keswadikaan, keberdayaan, dan kebahagiaan dimanapun wilayah, bagaimanapun suasana dan apapun peran zenka keabadian yang dijalani .... Pada hakekatnya, Samsara hanyalah ilusi mimpi dari Nibbana bagi semuanya.

Intinya : No (fake) Ego ... Just be IN One .... Do as Ariya be  
LEVEL IMPERSONAL > LABEL PERSONAL
keniscayaan kesedemikianan > pengharapan penganggapan
perlu kelayakan > kesadaran > kefahaman : acinteya ariya - panna kiriya 
Keswadikaan pemurnian kesejatian : dari MLD (moha - lobha - dosa) /asava (anusaya- nivarana- kilesha vs panna- samadhi- sila ? )
kewajaran meng-esa & kesadaran anatta ( Taoism weiwuwei = action without actor / acting ?.... just process )

Secara filosofis (hanya inferensi hipotetis, lho) tampaknya masih ada 2 (dua) level tataran keberadaan diri paska Asekha (Arahata, Paccekka, Sambuddha ) yang belum diungkapkan (mungkin akan dicapai) Buddha Gautama di wilayah transenden lokuttara dimana kebijaksanaan Sakshin akan keannattaan diri dari dagelan nama rupa  samsarik bukan hanya layak dalam notion berpandangan namun juga  dalam pencapaian via realisasi penempuhan tidak sekedar referensi pengetahuan belaka.
- Asekha = telah bajik terjaga ( namun dengan klaim mandiri tersucikan ... keakuan azaliah zenka nirvanik ?) 
See : Aneka Jati (Dhammapada 153 -154) Udana Vatthu
- Advaita = telah bijak terjaga (tanpa klaim kesudah-sucian pribadi ... keesaan azaliah sigma mandala ) 
See : amala avimala ( Prajna Paramitta Hrdaya Sutta ) 
- Adibuddha : telah benar terjaga 
See : Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam (Udana 5.3 Parinibbana )
Sudah selesai ? 
Walau dalam mandala zenka keberadaan diri mungkin sudah cukup namun masih belum untuk wawasan/ tataran kesedemikianan keseluruhan sigma & sentraNya. Memang agak spekulatif  jika kita lanjutkan bahasan alternatif  multiverse sigma & Maha Sentra.
multiverse sigma = 
Mandala wilayah keberadaan yang kita huni ini mungkin hanya satu dari sekian banyak lokadhatu serupa yang ada. Tidak sekedar dimensi kamavacara bawah  dunia  fisik ini saja  (quantum paralel) namun bahkan hingga seluruh mandala keberadaan spiritual zenka keberadaan diri bahkan hingga lokuttara. Mungkin ada wilayah yang lebih luhur namun ada juga yang lebih parah dari mandala spiritual kita. Yang paling luhur asymptot berada mendekati Maha Sentra Azaliah SegalaNya yang paling parah kualitas kemurnian spiritualitas terlempar menjauh dariNya ( Walau kesemua yang immanen bagiNya tetap terlingkup dalam Wujud, Kuasa & Kasih TransendenNya).

Maha Sentra = Dhamma Dhyana segalaNya 
Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )

Dhamma Dhyana akhir segalaNya ? Dhamma & Dhyana adalah state keberadaan abadi sejak azali Tuhan ? Ini agak susah diungkapkan ... bahkan jujur saja ini imaginasi intelektual yang agak kami paksakan karena sudah terlalu sulit bagi kami meng-inferensikan kemungkinan tertinggi hanya dengan apersepsi pengetahuan tanpa aktualisasi penempuhan apalagi realisasi penembusan. Mungkin agak mirip (tapi harus dengan inferensi kedalam/atas bukan analogi keluar/bawah, lho ... supaya tetap murni naik tidak jatuh karena klaim semu )  dengan Hipotesa Saguna-Niskala pada Brahma Vidya mistik Hinduisme  atau ibarat baskom air jernih yang merefleksikan matahari di atasnya seperti mistik kejawen ... Seluruh keberadaan ini adalah refleksi semu belaka dari wujud keberadaan, kehendak dan kasih sayang Causa Prima azali, Sentra Segala Abadi & Destinasi Orientasi dalam kesedemikiananNya (mumkimul wujud atas wajibul wujud Sufisme).  Jadi, Tuhan transenden suci dari segala kenaifan, kesemuan & keliaran deifikasi, identifikasi & eksploitasi kita (bahkan seharusnya jika itu hanyalah figure/ konsep laten deitas keilahian immanenNya saja ) dan tidak mungkin bahkan tiada layak bagi kita untuk menjadikanNya ( menjerat /memperalat ?) demi bemper kebodohan/kemanjaan diri, media katarsis psikologis /transaksi pencitraan dan kloset pembenaran pemfasikan/ kezaliman kepada lainnnya ... Walau Buddha memaklumi  keilahian kamavacara (masih mendamba terdefisiensi pada sensasi kebahagiaan eksternal pengakuan kekuasaaan atas lainnya ? yakha , dewata etc... see : ratana sutta & khanda paritta) namun tidak untuk level brahmanda (yang seharusnya sudah stabil mandiri akan kebahagiaan intenal atas fantasi keberdayaan energi ilahiahNya ... see : Brahma Baka ... mengapa ?)namun Beliau respek akan keilahian pada level lokuttaraNya (ajatan, abhutan, ashankata .. Hyang memang seharusnya sudah bukan hanya bijak, bajik namun benar  terjaga dalam esensi level murniNya tanpa klaim label keakuan apalagi pengakuan & pemujaan akan dagelan nama rupa kosmik ini ?). Well, kami agak menyayangkan pernyataan sejumlah tokoh (Osho,etc) terkadang terlalu berani mengkritisi term sensitif  Tuhan ini yang dideifikasikan dalam sakralisasi agama atau direalisasikan  dalam identifikasi kesatuan mistik ... Mohon berempatilah dalam dillema kosmik ini. Janganlah mencela (bahkan kalaupun itu memang tercela apalagi untuk yang tidak sepantasnya dicela  .... awas labirin paradoks pengetahuanm penempuhan & penembusan dalam triade evolusi-harmoni-sinergi)  ..
Terbabarnya Kaidah kosmik yang realistis ini sesungguhnya yang dinanti para genius scientist selama ini (Einstein, dsb). Kaidah Universal bagi semua tanpa ternodai klaim trium falisme (pembanggaan lebih baik dari lainnya hanya karena untuk anggapan sudah terlegitimasi ?) , standar ganda (karena merasa lebih baik maka apapun pandangan/pribadi/prilaku seburuk apapun itu harus diakui baik oleh lainnya) apalagi pembenaran addhamma bagi lainnya (pelaziman kezaliman karena klaim merasa lebih baik berhak melakukan ketidak-baikan kepada yang tidak baik) ... Berempatilah agar tidak tersekap pada logical/ ethical fallacy semacam ini. Desain kosmik sudah hancur sejak dahulu jika Kaidah Kosmik ini diakidahkan apalagi didaulahkan dan didiniahkan kacau seperti ini ... jangankan surga kamavacara (apalagi moksha Brahmanda atau Nibbana lokuttara), dunia manusiapun (bahkan Brahmanda bawah, wilayah kamavacara hingga apaya lokantarika) akan tidak layak baginya walau segala wilayah mandala ini  'terpaksa' tetap harus menerimanya sebagai laten deitas keberadaanNya dengan segala konsekuensi logis beban pralayanya. / Istilah religius SBARnya muflisin yang mustarohun minhu ? Orang fasik yang sudah tidak hanya pailit nol amal kebajikannya namun masih boleh dibangkrutkan lagi karena full noda kejahilan & dosa kezalimannya pada lainnya sehingga di wilayah manapun dia berada menyebabkan setiap diri dan alamnya berharap untuk segera bisa beristirahat dari kesombongan, keserakahan dan kedurjanaannya /  
Diperlukan Ariya Dhamma bukan apaya Dhamma bagi perbaikan x kejatuhan manusia   
Tiga Pesan Abadi keheningan kosmik yang diungkapkan para Buddha : Jauhi kejahatan, jalani kebajikan, sucikan fikiran

 
https://www.youtube.com/watch?v=tig-9g5RYrc&list=PLZZa2J4-qv-bpW9lgcl0XfLNL7tfMzZZD&index=63&t=34m55s
Link Data: www.tiny.cc/dhammapada-183Bro Billy Tan (p. 12 - 20)
Jauhi kejahatan namun dengan tanpa membencinya, Jalani kebajikan namun dengan tanpa melekatinya dan Sucikan fikiran namun dengan tanpa mengidentifikasikan apalagi mengeksploitasikan diri padanya (Dhammapada : 183). Itulah paradigma (yang walau tampak terdengar "sederhana" namun sesungguhnya sangat sempurna / bijaksana ) wejangan para Buddha untuk bukan hanya melalui namun juga melampaui samsara menuju Nibbana yang direalisasikan dalam keterarahan /keselarasan simultan triade pemurnian Sila - Samadhi - Panna.

Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. ( ALBERT EINSTEIN )
Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha
Promo Buddhism kami hapus ya, bro.... Bukan karena kami berlabel Non Buddhist.  Ini sama sekali bukan masalah konversi penganutan agama eksistensial tetapi murni aktualisasi penempuhan Dhamma Universal. Faham , ya ... bahayanya klaim (just idea  ... alagadupama sutta ?)
Kami berharap kalian SBNR bukan kami yang mengungkapkan berdasarkan bukti realisasi bukan sekedar hujjah sakralisasi apalagi opini referensi belaka  (tanggap ya ... mengapa kami tak menjawab 'mengapa' dan 'bagaimana' selama ini). Bukan hanya karena sungkan karena kebelum-layakan level padaparama kami namun yang paling utama riskan untuk mengkhianati keberadaan SBAR kami plus segala dampak resiko yang tetap perwira kami terima . 
Tanpa kedengkian untuk menghalangi (dan juga bukan manuver untuk mengerjai dalam kejahilan pembodohan eksternal, kefasikan pembenaran memperdaya diri internal apalagi kezaliman untuk menghancurkan keseluruhannya) ... Jika kami SBAR belum bisa atau tampak pasrah saja bukan berarti SBNR juga harus diam tidak perlu bisa, kan ?  

rehat dulu ... biasa (nggak fokus lagi internally ... gangguan/ panggilan externally)

atau langsung yang kontroversial & provokatif sekalian seperti ini sebagai awalannya

PROLOG

PARAMA DHARMA : Just Idea ...
Avijja ... kebodohan ini keburukan atau kebutuhan ?
Yang perlu kita fahami, sadari dan hadapi tampaknya bukan sekedar kegilaan insani atau kematian alami namun terutama kelupaan abadi akan kesejatian diri dalam setiap episode permainan keabadian samsarik yang disebut (siklus) kehidupan (dan kematian) ini. 
Well, The Greatest evil is Ignorance  Kejahatan terbesar adalah (karena?) Avidya ketidak-tahuan
Walau dalam pengetahuan ketidak-tahuan akan realitas (kaidah panentheistik?) ini istilah evil (kejahatan/ keburukan) yang digunakan mistisi Sadhguru Yasudev tersebut tidak terlalu salah sebagaimana juga terma avijja kebodohan yang digunakan Samma Sambuddha Gautama namun demikian dalam realisasi penempuhan holistik demi penembusan, pencapaian & pencerahan yang bukan hanya murni dan benar tetapi juga bijak dan tepat untuk mensikapi itu sebagai 'kewajaran' yang harus diterima untuk dihadapi dan difahami agar secara bijaksana dapat dilampaui dengan kesadaran (terhindar dari jebakan konseptual, jeratan identifikatif & sekapan dualisme inference paradoks spiritual MLD yang sangat mungkin terjadi. Well, untuk keniscayaan dalam kesedemikianan yang terjadi perlu keselarasan akan kelayakan dalam keberadaaan dan keberdayaan yang memadai. (transendensi kebijaksanaan pemberdayaan berkembang & berimbang melampaui pemakluman faktitas eksternal untuk diterima keterbatasan & pembatasannya ). bagaikan menumbuh-kembangkan bunga teratai di kolam lumpur yang keruh.
KEDEWASAAN PENCERAHAN 
The disaster in this planet is not an earthquake, not volcano, not a tsunami.
The true disaster is human ignorance. This is the only disaster. Ignorance is the only disaster.
Enlightenment is the only solution, there is really no other solution, please see -You need a subjective perception of life.
so spiritual process if it has become alive … this is not about renunciation. This is just about living sensibily.
Bencana di planet ini bukanlah gempa bumi, bukan (letusan) gunung berapi, bukan tsunami.
Bencana sebenarnya adalah ketidaktahuan manusia. Ini satu-satunya bencana. Ketidaktahuan adalah satu-satunya bencana. 
Pencerahan adalah satu-satunya solusi, benar-benar tidak ada solusi lain, silakan lihat -Anda membutuhkan persepsi subjektif tentang kehidupan.
Jadi proses spiritual jika telah menjadi hidup… ini bukan (hanya?) tentang pelepasan keduniawian. Ini (tepatnya?) hanya tentang hidup dengan bijaksana
BAHASAN =  TENTANG AVIJJA 
Walau avijja secara etika kosmik adalah penyimpangan keselarasan namun ini membuat keberagaman (seperti biasan pelangi dari cahaya mentari yang sama)
Mungkin sangat sensitif dan agak provokatif jika kami menyatakan ... ADA SESUATU YANG MUNGKIN BELUM DIKETAHUI KITA SEMUANYA TERMASUK JUGA YANG BELUM DISADARI PARA TUHAN, DIHAYATI PARA BRAHMA BAHKAN DIFAHAMI PARA BUDDHA SEKALIPUN ..... DALAM PERMAINAN DRAMA DALAM DARMA DARI KEAZALIAN HINGGA KEABADIAN YANG SUDAH, SEDANG DAN AKAN BERLANGSUNG SELAMA INI ....  Triade labirin paradoks diri - alam - inti dalam drama abadi dari fase azali hingga nanti ini (label eksistensial - layer universal - level transendental) dengan 'maha avijja' sebagai skenario samsariknya dan 'parama dhamma' sebagai desain holistiknya memang sangat complicated (jangankan untuk dilampaui dalam penembusan , untuk dijalani dalam penempuhan bahkan difahami dalam pengetahuan saja sulit & rumit ) 
Sial .. kenapa terasa/ terkesan sombong dan lancang ... padahal ini hanya asumsi filosofis yang berdasarkan inferensi belaka ( bisa jadi hanya imaginasi bahkan halusinasi bukan realisasi empiris sebagaimana harusnya ? ...   Tampaknya memang wadah batin ini memang kacau ... sesungguhnya bukan hanya kesungkanan (keresahan karena rendah hati atau mungkin tepatnya rendah diri ... minder akan kualifikasi ideal untuk membabarkan dhamma ) apalagi keriskanan (kecemasan tersudutkan sebagai public enemy bahkan cosmic enemy karena  membeberkan avijja) namun disamping ruwet & rumitnya permasalahan banyak kekesalan di dalam (pantas ... baru bicara jika marah rasionalisasi pembenaran karena dibodohi, dijahili & dizalimi ? ... Spiritualitas walau dalam perspektif holistik sesungguhnya memang sederhana namun dalam kerinduan beraktualisasi selaras denganNya tidaklah gampang ... Well, susah juga untuk mukhlish murni , begitu mudah untuk muflis bangkrut  nantinya)

rehat lagi , ah .... makin mbulet . Kalau ini jujur saja stuck macet .... murni overthinking internal bukan karena gangguan eksternal sama sekali. zazen batin kacau karena fokus terus beralih ? habis yasinan/ takbiran . (ah ... jangan nyalahin yang di luar karena  yang di dalam memang ruwet), REHAT .... Rekap yang ada dulu.... revisi lagi lanjutannya nanti ... jika batin sudah mood untuk  flow lagi.  Dulu arus idea tampak jelas tertata di dalam ketika harus diungkapkan ke luar selalu berputar tidak karuan begini. 
Kami bukanlah (atau tepatnya saya walau mungkin cenderung dipandang negatif agak  introvert /?/... padahal walau canggung sudah berusaha harmonis, lho .. well, memang terlihat tidak mampu luwes simpatik .. namun sesungguhnya tidaklah terlalu) membenci diri sendiri (self hatred ... karena kesenjangan antara idealitas yang kami fahami dengan yang sudah dijalani apalagi mampu dicapai ) apalagi harus membenci yang lain sesama pendagel yang berperan dalam episode kehidupan abadinya masing-masing (agar senantiasa menerima & mengasihi segalanya demi mampu melampaui faktisitas avidya diri sendiri /bukan untuk membandingkan / mengungguli lainnya, lho ... bumerang mana pembandingan buih air samudera keazalian / bagi layak terniscayanya kesedemikianan dharma ini sebagai kesadaran pandangan yang harusnya dilakukan sebagai kewajaran dalam kesedemikianan yang interconnected demi equilibirium keharmonisan keseluruhan dalam desain kosmik yang homeostatis ini ). Walau harus kami akui agak mencemaskan diri juga ..sejujurnya  figur yang kami (dan seharusnya juga yang lain ?) takuti adalah diri kita sendiri ? Kitalah penentu sesungguhnya peniscayaan yang akan terjadi karena segalanya akan berbalik lagi ke diri sendiri ... dikarenakan kita sesungguhnya berada dalam sekian layer tubuh dimensi diri (fisik, eteris , astral, kaustal,monade, kosmik, nirvanik, dst ) yang terpantau berkaitan dalam seluruh wilayah kesemestaan Mandala advaitaNya  (tergurat jelas dalam atsar./ antah karana/ alaya vinnana, etc batin kosmik kita untuk sesungguhnya bukan hanya yang dilakukan dalam tindakan aktual fisik, ucapan verbal bahkan terbetik pada benak kesadaran kita di kedalaman ?)... well, jadi fahami & sadari sebenarnya tiada mungkin bagi kita untuk menipu/ menjahili/ menzalimi diri /apalagi lainnya/, meninggikan hati /bukan hanya yang layak dihormati namun juga keberadan lainnnya yang seharusnya tetap kita hargai serendah apapun mereka dipandang/ dan lari dari tanggung jawab / baik yang sudah kita sadari maupun yang belum kita fahami karena level kesadaran kita memang belum mampu mencapainya  untuk perlu menghadapi & melampauinya/ akan Parama Dhamma ketentuanNya .... apalagi membandingkan, bersaingan, merasa setara (sok akrab/kuasa agar bisa tranyakan mengeksploiTasi lainnya walau yang pasti dirinya sendiri) atau bahkan jumawa seakan mampu melebihi Wujud Sentra Segala Nya  Hyang tidak sekedar personal immanen laten deitasNya namun Impersonal Transenden yang melampaui dan melingkupi seluruh wilayah dan pribadi di dalam kuasa, kasih & wujudNya? ).
Well ... sebetulnya memang ada yang perlu saya katakan berkaitan dengan itu semuanya ... episode samsarik yang sudah, sedang dan akan kita jalani  jika saja inferensi saya atas segala referensi yang ada ternyata benar  ..... walau sesungguhnya saya berharap tidak demikian adanya . Singkatnya  (mudahnya  tiga ini saja) :
1. Mengapa Buddha ada menyatakan sebagian besar dari kita (baik yang beragama & berTuhan ataupun yang tidak ?) terhalang menuju jangankan Nibanna pembebasan, atau lolos ke Brahmanda Jhana 4 (vs Mahapralaya kamavacara ) bahkan untuk ke surga Kamavacara (vs Pralaya Mayapada dunia) bahkan kemudian susah menjadikan kamavacara bawah (yakha, asura, manusia,) justru malah apaya (hewan.petta , niraya) bahkan lokantarika seakan menjadi hunian layak berikutnya /niyata miccha ditthi?/. 
2. Mengapa Buddha perlu menyadarkan Brahma Baka (yang nota bene lebih tinggi level keilahianNya dibandingkan Personal God kamavacara cakkavati di bawahNya) untuk tidak meng-Ilah-kan diriNya  dan itupun beliau lakukan dengan sedikit pelanggaran sinergi atas Dhamma Kosmik dengan mengalahkannya dengan abhinna keunggulan adikodrati yang dalam level keterjagaan nirvanikNya beliau sadar sebaiknya tidak di gunakan di wilayah mimpi samsarik (Buddha bahkan sebelum pencerahanNya sudah mampu ke maqom ke"ilahi'an yang lebih tinggi ... tidak hanya mampu berkeseimbangan di rupa Jhana bahkan hingga Arupa Jhana ).
3. Mengapa Buddha harus mengumpulkan & memberikan wejangan ovada patimokha di bulan Magha untuk tetap terjaga,berjaga dan menjaga diri kepada 1250 Arahat (Apakah Magga Phala pencerahan Nirvanik yang sesungguhnya melebihi sekedar Jhana Vasi pencapaian Brahmanda tidaklah permanen & bukan sertifikat garansi kosmik kebebasan ) ?  
Apa yang akan kami katakan nanti mungkin bisa akan sangat menyinggung semuanya dan bisa jadi akan menyudutkan lainnya ..... Haruskah kami utarakan (tepatnya kita bahas ) untuk melalui  batu ujian SBAR yang krusial ini untuk melanjutkan ke tahap berikutnya (Bagaimana melalui & melampauinya ) ? 
Jangan berprasangka buruk dulu ... ini bukan berkaitan dengan memperdayakan (bahkan kalaupun itu sebelumnya ternyata keterpedayaan) namun untuk segera memberdayakan meniscayakan kesedemikianan dalam keseluruhan tidak sekedar mengandalkan kemungkinan yang secara obyektif /holistik menyimpang adanya..... keperwiraan beraktualisasi merealisasikan  yang saling mencerahkan/menguatkan nantinya tidak sekedar defesiensi pembebanan yang saling menyusahkan/ menjatuhkan akhirnya. Ini tegasnya tidak dimaksudkan untuk secara konyol memporak-porandakan kemapanan tatanan yang sudah ada apalagi mengobrak-abrik respek sakralisasi selama ini ... bumerang kamikaze / genosida bagi semua, bro. Ini jelasnya dimaksudkan untuk on ptocess menyelaraskan kembali keberadaban spiritualitas kita yang juga by product akan mengembangkan peradaban eksistensialitas berikutnya....ubah orientasi keselarasanNya saja (selera fashion ~ arah passion) , tak perlu ganti asesories apalagi buat pakaian yang baru (hanya akan ulangi kepekokan & kehebohan lama akan kecenderungan siklus kejatuhan ajaran : Saddhamma > mistik > lokiya > pseudo >addhamma,dst...tidak usah lagi mencari apalagi menjadi 'Tuhan' baru bagi lainnya dengan segala atribut pemikat & penjeratnya/ dogma, agent, power < force < squad etc/ ). Segalanya harus dimulai sebagaimana diri kita disini dan saat ini dengan segala faktisitas keterbatasan yang ada untuk diarahkan .... tanpa harus melagakkan diri seakan diri lain yang sudah berbeda (intinya ulat harus meniscayakan kesedemikianan sebagai kupu-kupu dengan tahapan proses metamorfosis kepompong yang sejati & mandiri tanpa membebankan apalagi menjatuhkan ulat yang memang masih liar bahkan kupu muda yang masih naif tampaknya.) .... Berusaha sebaiknya walau hasil mungkin belum sempurna.   
Hehehe ..... ini guyonan jangan serius : alien maju dari galaksi / dimensi lain mungkin agak heran memantau kita disini yang begitu lambat nyaris stagnan bahkan cenderung mundur perkembangan evolusi, harmoni & sinergi kosmik kita (keberadaban spiritualitas , keselarasan universalitas & peradaban eksistensialitas) dan senantiasa menyukai, melekati & menikmati dukkha kegalauan, kesakauan dan kekacauannya dagelan kita memerankan diri di planet bumi ini. Sejarah mengajarkan kepada kita satu hal utama bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah ... selalu mengulangi kebodohan, kesalahan dan keburukan yang sama disetiap vatta pembentukan , yuga perjalanan & pralaya penggulungan.
Kisah ini semula akan kami kembangkan semacam parodi kiasan namun stuck kemarin (parah!) dan lupa lagi saat ini (payah!) jadi ya ... daripada bicara salah & ndabyah tidak berguna dan malahan membuat resah/sesat lainnya yang otomatis juga mengakibatkan noda batin kosmik diri .maka sementara...Wasalam dulu.  
alurnya demikian si alien tsb ... 
pesan moralnya .....
kutipan lampau ...:
disimpan di akhir saja ... amrih entuk iwak tanpo butek banyune. (menghindari salah faham karena pandangan yang menyeluruh belum dimengerti ... atau tepatnya tidak mudah disampaikan ). Susahnya jadi introvert pembelajar autodidak visual yang tidak cakap berkomunikasi verbal.

Well ... apa ini saja dulu sebagai awalan pembuka keran ... 

 

Agama =
Dilema Junaid al-Baghdadi atas shatahat Mansur al-Hallaj (Ana’l Haqq = akulah kebenaran/Tuhan) :  “Berdasarkan syari’at, ia bersalah. Menurut hakikat, Allah Yang Maha Mengetahui.” 
Al-Junaid dikenal sebagai tokoh sufi yang sangat menekankan pentingnya keselarasan antara praktik dan doktrin tasawuf dengan kaidah-kaidah syari’at. Salah satu ungkapan Al-Junaid tentang ilmu tasawuf yang dikutip oleh al-Kūrânī dalam Itḥâf al-dhakī adalah ucapannya: “pengetahuan kami ini terikat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.” Dengan ini mengindikasikan bahwa ajaran tasawuf menurut Al-Junaid haruslah tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. 
Mistik =
Simran Panca Nama Sant Mat = zikir respek mantra terhadap 5 "Tuhan" penguasa wilayah rohani kamavacara & brahmanda ? = Niranjan, Om, Soham, Shakti and Rarankar (Alakh Niranjan /surga astral?/ - Omkar /layer kausal = Brahm/mara?) etc )
Dhamma =
kutipan lampau 
(ah ... repot ; mau copas ada di blog akun lain. Di blog akun induk banyak yang diblok, sih ..... Coba kutip lagi saja.  Plus file referensi terupdate selama ini di google drive ) .... apa bisa selesai di liburan ini, ya ? Ah... dicoba saja sebisanya.  Ini bukan sekedar projek liburan tetapi program seluruh kehidupan bahkan sepanjang keabadian diri.  Seharusnya tidak sekedar referensi pengetahuan tetapi realisasi penempuhan. Sesungguhnya tidak hanya diperbincangkan (walau diperlukan?) tetapi harus dilaksanakan (untuk peniscayaan). 
atau langsung saja ...
Tuhan ? Walaupun yang Mutlak memang ada (jika Sentra Sejati yang transenden tidak ada bagaimana mungkin sigma dimensi mandala  semesta tergelar dengan aneka zenka keberadaan di dalamnya) namun dalam mandala samsara immanen ini banyak petta, asura, yakha, dewata, brahma bahkan nafs ego yang  mengidentifikasi diri berkompetisi, berinteraksi ,bertransaksi saling mengeksploitasi / mengaktualisasi diri. 
Tuhan (atau ketuhanan tepatnya) adalah konsep bagi samudera energi keberadaan yang kemudian diklaim sebagai entitas figure diri yang disakralisasikan secara personal bagi agama (perlu kebajikan eksistensial untuk perolehan kebahagiaan eksternal) & sebagai keberadaan transpersonal bagi mistisi untuk direalisasikan (perlu kebijakan universal untuk pencapaian keholistikan internal).... bagi Dhamma entitas yang masih berklaim tersebut dipandang masih bersifat samsarik demi transendensi azali nirvanik yang lebih murni (perlu kebenaran spiritual demi pencerahan keterjagaan esensial) ?
Dalam pandangan kami konsep/figure Tuhan seharusnya tidaklah sedangkal itu ....kami menggeser tepatnya memperluasnya dalam ketak-terhinggaan yang tidak mungkin terjangkau apapun impersonal infinitum indefinite ( see : bahasan di atas). Bahkan jikapun dalam kenyataannya mungkin demikian kita tetap memerlukan sesuatu yang tak terhingga untuk tumbuh berkembang lebih terarah & terpadu demi sinkronisasi kebenaran dan bagi integrasi keutamaan yang dapat direalisasikan dari, oleh & untuk semua .... paradigma yang terdengar naif  untuk didengarkan atau arif untuk dikembangkan ?
Mungkin agak nggege mongso walau operasi caesar mungkin memang perlu dilakukan. Agar dari bayi prematur paradigma yang belum tiba saanya ini akan menjadi prototype bagi intelgensi kecerdasan manusiawi kita dalam berfilsafat tidak lagi stagnan & 'mbulet' dan kembali berkembang membaik untuk kehadiran bayi pandangan baru (baca: paradigma sintesa) yang lebih sehat, tepat dan hebat berikutnya. 
menerima /kenyataan/, mengasihi /kebenaran/ & melampaui /keutamaan/ karena Realitas di kedalaman yang terniscaya sebagai fenomena ke permukaan tsb gradatif (walau memang hirarkis namun tunggal adanya), dinamis (kesempurnaan absolut tidak stagnan namun semakin baik berkembang karena kearifan, kesucian & keutuhanNya) dan integrated (segalanya interconnected demi equilibirium bagi desain kosmik yang homeostasis) 
keterniscayaan ?  prokreasi penciptaan (materi) < emanasi keberadaan (energi) < katalisasi kemungkinan (esensi)    
Ini memang idea baru yang sama sekali tidak akan pernah menguntungkan ego penganut, penempuh & penembusnya ... tanpa klaim identifikatif/ eksploitatif/ alienatif bagi pembenaran trium falisme, standar ganda dan pembenaran addhama demi kekuasaan eksternal atas lainnya karena .... well, walaupun sebenarnya penyesatan sebagaimana pencerahan memang memunginkan ada sebagaimana juga kesadaran parama dharma dan maha avidya ini namun demikian ..... pengkhianatan terbesar kita sesungguhnya menyangkal kenyataan, mengabaikan kebenaran dan mengacuhkan keutamaan yang digariskanNya bukan hanya demi evolusi, harmoni & sinergi individualitas 'tan-diri' kita namun juga bagi keberlangsungan, keberlanjutan dan kebersesuaian equilibirium bagi kaidah sistem atas desain kosmik yang homeostasis & interconnected mandala semesta ini dan segalanya seharusnya semakin menghampa sebagai ketiadaan murni dari keberadaan sejatiNya. Kenyataan sejati, Kebenaran abadi & Keutamaan azali ini akan selalu terjadi walau kita tidak mampu memahamiNya, walau kita tidak mau mengakuiNya & walau kita berusaha menjauhiNya .  

PROLOG 

APERSEPSI = PANENTHEISTICS 3
Panen-ego-istics ? panentheisme Hyang Esa (Realitas sebagai organisme besar diri ?) .... kesemestaan 
Panen-geo-istics ? panentaoistic Hyang Ika (Realitas sebagai tatanan agung alam ?) .... keselarasan 
Panen-deo-istics ? panentheistics Hyang Ada (Realitas sebagai biasan nyata inti ?) .... keterpaduan 
MONOLOG 
AKTUALISASI = GNOSIS WISDOM Parama Dharma  dalam Mandala Advaita dengan Formula Swadika 
Beretika atas kesemestaan (Being true , humble, responsible = nobody deserve everything ... just be no fake one in the Real One)
Berdaya dengan keselarasan (pengarahan keabadian, pencakapan kehidupan, peralihan kematian)
Bersiaga dalam keterpaduan (terjaga sbg esensi transendental, menjaga sbg media universal, berjaga sbg figur eksistensial)
EPILOG 
ANTISIPASI = EPISODE SAMSARIK 
a quest for secret global ? Be lonely as chickenlish eagle in the trully crowd of  eaglelish chicken ... secret in hidden but sincere in real ? ( Bangunlah peradaban eksistensialitas via keberadaban spiritualitas dalam keselarasan universalitas : hitech science empiris / interkoneksi lintas kosmik / bersama saling memberdaya menuju asymptot kesejatian segalanya ) x delusi penguasa semu dunia eksternal tetapi kehilangan segalanya (internal diri sejatinya sendiri) ... harga yang terlalu mahal untuk kedunguan ... walau memang seakan terkesan tampak lebih hebat dari mereka (tepatnya mungkin juga kita semua)  yang masih terlelap dalam anggapan naif, harapan liar dan pandangan semu. 
paradoks terbesar keabadian : nobody really deserve everything meanwhile somebody only possess nothing (keterjagaan > keberdayaan> kebahagiaan)
Quo vadis : mendekati yang adibuddha di lokuttara atau memerani 'markandeya' di lokantarika untuk kembali mendagel di samsara, zachner ? ( bersegera dalam keterniscayaan transenden atau masih penasaran dengan penjelajahan universal atau memang kecanduan dengan permainan eksistensial ?)
PENUTUP
SELESAI 

BELUM REVISI, BUANG RESTAN & PLUS IDEA .... ADA PERLU. LANJUT LAGI NANTI, NGGIH ?